Selasa , Juni 18 2019
Home / Artikel / Kabar Organisasi / LDII kembangkan energi terbarukan di pondok pesantren
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di salah satu pondok pesantren LDII yakni Pondok Wali Barokah Kediri

LDII kembangkan energi terbarukan di pondok pesantren

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di salah satu pondok pesantren LDII yakni Pondok Wali Barokah Kediri

Kediri– Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengembangkan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur yang mampu menghasilkan listik hingga satu juta watt.

Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo mengatakan selama ini pondok pesantren masih menggantungkan kebutuhan listrik kepada PLN akibatnya beban biaya yang ditanggung terus meningkat seiring dengan besarnya pemakaian listrik. 

Berkaca dari hal tersebut DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS sendiri dan pada tahap awal dibangun di Ponpes Wali Barokah Kota Kediri.

Menurut dia pengembangan PLTS yang terbesar di Indonesia untuk ponpes ini merupakan bentuk pemanfaatan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi. 

Ia mengatakan pondok pesantren Wali Barokah menjadi yang pertama di Indonesia menggunakan teknologi PLTS sebesar ini. Menurut dia ini merupakan wujud paradigma khusus tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga saja namun pendayagunaan EBT komparasinya bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energi BBM. 

“Ini yang menjadi pemahaman organisasi yang kita terapkan,” tambah Prasetyo.

 

Petugas sedang memasang panel surya Pembangkit Listrik Tenaga Suarya (PLTS) di Pondok pesantren Wali Barokah Kediri, Jawa TImur

 

Ia menjelaskan Indonesia sebagai negara tropis tidak mengalami musim salju, sehingga energi matahari tersedia sepanjang tahun. 

“Dari perspektif religius, penggunaan energi matahari merupakan manifestasi kesyukuran kepada Allah SWT yang mengkaruniakan Indonesia sinar matahari yang tak ternilai harganya,” imbuhnya.

Sementara Pimpinan Ponpes Walibarokah KH Soenarto  mensyukuri anugerah Allah SWT berupa sinar matahari yang dapat dijadikan energi listrik untuk menerangi pondoknya, sehingga terjadi penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan. 

“Untuk kedepannya ada pemikiran menjadikan ponpes ini, sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS, sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” kata pria asal Klaten tersebut.

 

Pakar PLTS di Ponpes Wali Barokah Horisworo menjelaskan PLTS yang dibangun instalasinya di ponpes tersebut berukuran 40 m x 41. Pembuatan panel surya ini menggunakan dana yang dikumpulkan secara gotong-royong oleh warga LDII untuk membeli panel surya (Solar Cell) dengan kualitas premium buatan Kanada yang mencapai Rp10,1 miliar.

“Produsen Kanada ini memberikan garansi selama 25 tahun sehingga lebih efisien walaupun panel surya dari China lebih murah namun kami tetap pilih yang dari Kanada,” kata dia.

Bantuan NASA

PLTS tersebut nantinya akan menghasilkan 1 juta Watt maksimalnya dan saat ini belum dioptimalkan seluruhnya, karena kebutuhan ponpes dengan 5.000 santri tersebut sudah terpenuhi dan masih ada banyak kelebihan.

Penerangan di ponpes yang terletak ditengah Kota Kediri tersebut, juga sangat bagus karena pada malam hari terlihat penerangan yang maksimal. Hal ini membuat santri lebih nyaman belajar dan beraktifitas serta kondisi tersebut didapat dengan efisien karena memanfaatkan PLTS.  

“Prinsipnya ponpes Wali Barokah sudah mempraktikkan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT. Pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan, dan kami sudah menabung, sudah berinvestasi untuk mandiri energi, memanfaatkan karunia Allah. 

“Maka kami serius membangunnya, sampai untuk penentuan titik dimana intensitas sinar matahari terbesar, kami minta bantuan satelit NASA dan di gedung inilah yang intensitas sinar matahari tertinggi (dibandingkan beberapa gedung di ponpes tersebut),” papar pria asal Banyumas tersebut.

Di sisi lain pihaknya juga sudah merencanakan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bio Masa (PLTBM) dengan memanfaatkan sampah harian dari warga ponpes yang jumlahnya ribuan orang.

“Dari sampah atau suatu yang dibuang bisa kita manfaatkan menjadi energi, dengan berbekal pengalaman telah membuat PLTMB di Bandung, saya punya keinginan bisa menghadirkannya di ponpes ini. Potensi sampah di sini sangat besar, dan dapat mengokohkan kemandirian energi ponpes ini, tinggal menunggu bagaimana musyawarah pimpinan pondok,” kata Horisworo.

Sebelumnya pememenuhan kebutuhan energi listrik secara mandiri juga dikembangkan pembangkit lisrik berskala kecil yakni pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) di pabrik teh Jamus di Ngawi. 

Pabrik teh peninggalan Belanda sejak 1928 seluas 478 hektare itu semula digarap menggunakan bahan bakar minyak ( BBM) dan kayu bakarnamun kini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH. PLTMH  itu sendiri dirancang pada 2007.  

Pimpinan Perkebunan Jamus Purwanto Wahyu mengatakan untuk satu unit PLTMH mampu menghasilkan listrik sebesar 100 Kwh dengan investasi dana sebesar Rp1,7 miliar. Kemudian dilakukan pengembangan dengan membangun satu unit lagi dengan biaya Rp900 juta dan mampu menghasilkan listrik sebesar 100 Kwh.

Setahun kemudian pihaknya juga pihaknya juga membangun PLTMH yang melewati tanah masyarakat dengan daya mencapai 50 Kwh.

         

About Admin

Check Also

LDII : Reformasi sedianya hasilkan pemimpin yang melayani

  Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Prasetyo Sunaryo menyatakan reformasi sedianya menghasilkan pemimpin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.