Sabtu , September 21 2019
Home / Nasehat / Amalan / TAAT SUAMI, SURGA MENANTI

TAAT SUAMI, SURGA MENANTI

Pernikahan membuat pria dan wanita yang tidak mahrom menjadi mahrom. Pernikahan tidak hanya menyatukan hati dua insan namun juga mempersatukan keluarga keduanya. Pernikahan menjadikan kewajiban taatnya wanita kepada orang tua, berpindah menjadi wajib taat suami. Setiap istri tentulah ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya. Namun tidak banyak yang mengetahui caranya, apalagi yang berhasil menjalankannya.

Mari kita simak hadist berikut ini :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ اَيُّ النّسَاءِ خَيْرٌ؟ فَقَالَ: خَيْرُ النّسَاءِ مَنْ تَسُرُّ اِذَا نظَرَ وَ تُطِيْعُ اِذَا اَمَرَ وَ لاَ تُخَالِفُهُ فِى نَفْسِهَا وَ مَالِهَا. الحاكم فى المستدرك 2: 175

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Nabi SAW ditanya, “Wanita yang bagaimanakah yang paling baik?”. Beliau bersabda, “Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang apabila dipandang suaminya menyenangkan, apabila diperintah dia taat dan tidak menolaknya pada dirinya dan hartanya”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 175]

Berdasarkan hadist tersebut, wanita yang paling baik adalah wanita yang menyenangkan dipandang suaminya dan selalu taat terhadap apapun perintah suami selagi tidak maksiat. Disambut dirumah oleh istri yang telah rapi dan berhias tentu dapat sedikit melepas lelah suami setelah berkerja seharian. Meskipun baru melihatnya saja sudah menyejukkan mata. Apalagi jika istri sudah mempersiapkan makanan dan minuman yang siap disantap berdua. Meskipun jika istri bekerja, tetaplah menjadi kewajiban utama untuk melayani dan tidak menolak keinginan suami. Tetap harus menyediakan hidangan di meja, baik dengan memasak selepas bekerja atau mungkin hanya dengan menemani suami makan agar tidak hanya ditemani oleh kursi kosong dan  makanan yang hanya dibeli saja.

Taat suami tidak hanya ketika suami ada dirumah. Bahkan ketika jarak memisahkan, bukan berarti kewajiban taat menjadi berkurang. Istri harus menjaga dirinya, menjaga pandangan serta menjaga hartanya selagi suami tidak ada. Begitu pula dengan suami. Sungguh yang demikian adalah ciri istri yang sholehah. Al-Qur’an pun sudah menjelaskannya.

اَلرّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ وَّ بِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ، فَالصّلِحتُ قنِتتٌ حفِظتٌ لّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ. النسآء:34

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka) …. . [QS. An-Nisaa’ : 34]

Demikianlah cara untuk menjadi wanita yang sholehah yaitu taat kepada suami. Lantas apakah balasan yang Allah janjikan? Yaitu Sesuatu yang menjadi harapan anak anak, remaja, dewasa, tua muda, Yaitu surga. Surga yang tak kenal usia, surga yang memenuhi apa yang diminta penghuninya, surga yang menjadi tujuan semua umat manusia. Tidak hanya itu saja, wanita yang taat kepada suaminya akan dapat memasuki surga dari pintu manapun yang dikehendakinya. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadist berikut ini:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: اِذَا صَلَّتِ اْلمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَ صَامَتْ شَهْرَهَا وَ حَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَ اَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتِ مِنْ اَيّ اَبْوَابِ اْلجَنَّةِ شَاءَتْ. ابن حبان 4: 333

Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila wanita itu bisa menjaga shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan menjaga kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu manasaja yang ia sukai”. [HR. Ibnu Hibban juz 4, hal. 333]

Sungguh tidak terhingga balasan bagi wanita yang taat pada suaminya. Bagi yang sudah menikah, sudahkah Anda menjadi istri yang taat suami ?

Bagi wanita-wanita yang masih sendiri, siapkah anda menjadi istri yang taat suami ?

Mari perbaiki dan persiapkan diri agar menjadi istri yang taat suami. Mari pantaskan diri menjadi wanita paling baik, wanita sholehah dan wanita penghuni surga. (ash)

Penanggung Jawab Artikel :

arofah-294x300Nama : Ust. H. Noer Hidayatulloh (H. Arofah Almubarok) 

Email : h.noerhidayatulloh354@gmail.com

         

About Agung Novrianto

Check Also

PAHAMI ADAB DALAM MENYEMBELIH HEWAN

Sebentar lagi kita akan menjumpai Hari Raya Idul Adha atau yang lebih dikenal dengan Hari …

2 comments

  1. Bagaimana kalau suami karena ini menjadi merasa segalanya dan menjadi tidak memahami keadaan istri. Apakah dosa bagi istri yg juga bekerja mencari nafkah, karena memang situasi kondisi yg kurang baik bagi istri shg kurang melayani suaminya yg mengakibatkan suami marah.

    • Assalammualaikum,

      Ya Ukhty…. manusia telah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan berpasang-pasangan. Ikatan suami-istri melahirkan hak dan kewajiban. Haknya suami adalah kewajiban bagi sang isteri untuk melaksanakan, sebaliknya haknya istri adalah kewajiban bagi suami untuk menunaikannya. Jika setiap individu memahami dan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya, ingatlah bahwa ia telah memenuhi apa yang menjadi hak pasangannya. Artikel di atas adalah nasihat berdasarkan kitabillah wa sunnah tentang kewajiban istri terhadap suami. Maka sepatutnya dibaca dan dipahami para istri utk menunaikannya. Insyaa Allah lain waktu, kami akan memposting nasihat untuk para suami. Terkait pertanyaan apakah dosa, maka tergantung bagaimana situasi, kondisi dan komunikasi istri dengan pasangannya. Apabila sang suami meridhoi sang istri membantu dalam mencari ma’isyah yang halal dan pekerjaannya thoyyib (baik) serta tidak melanggar larangan agama, maka tidak ada masalah. Umpama pelayanan istri terhadap suami tidak optimal karena hal tersebut, kalau suami memahami karena komunikasi yang baik tadi, maka tidak saling memudhorotkan di antara keduanya. Namun kalau suami tidak ridho dan memerintahkan sang istri berhenti bekerja, maka tidak ada yang harus dilakukan oleh sang istri selain berhenti. Intinya komunikasi yang baik. Taat pada suami hukumnya wajib dan memiliki keutamaan yang agung berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:…..
       “ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﺖْ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺧَﻤْﺴَﻬَﺎ، ﻭَﺻَﺎﻣَﺖْ ﺷَﻬْﺮَﻫَﺎ، ﻭَﺣَﻔِﻈَﺖْ ﻓَﺮْﺟَﻬَﺎ،
      ﻭَﺃَﻃَﺎﻋَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ؛ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬَﺎ ﺍﺩْﺧُﻠِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣِﻦْ ﺃَﻱِّ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺷِﺌْﺖِ”.

      “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya:
      “Masuklah ke dalam Surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘auf dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).

      Juga bersabda Rasulullaahi Shallallaahu ‘alaihi wasallam,

      ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺘَﺎﻋِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ ،

      “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim dari Abdullah Ibnu Umar)

      Beliau juga bersabda:

      ﺃَﻟَﺎ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻙَ ﺑِﺨَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﻨِﺰُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ ﺇِﺫَﺍ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺳَﺮَّﺗْﻪُ
      ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣَﺮَﻫَﺎ ﺃَﻃَﺎﻋَﺘْﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻏَﺎﺏَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺣَﻔِﻈَﺘْﻪُ

      “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

      Tidak diragukan lagi bahwa istri adalah pemimpin rumah, karena ia yang bertugas menjaga rumah suaminya dan ia juga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas tersebut. Apabila istri seorang wanita shalihah tentu ia akan membangun rumah tangga yang kokoh dan melaksanakan dengan perkara-perkara yang dapat membawa kebahagiaan bagi seisi rumah (dirinya, suami & anak-anaknya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.