Padang (27/9). DPD LDII Kota Padang menggelar Diklat Upgrading Pemuda LDII 2026 di Masjid Miftahul Jannah, Kelurahan Anduring, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, pada 25–27 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti 70 peserta dari unsur kepengurusan kepemudaan PC dan PAC LDII se-Kota Padang.
Dewan Penasihat DPW LDII Sumatera Barat, Afrizal Yaman, mengatakan pemuda LDII ke depan tidak hanya menjadi objek pembinaan, tetapi perlu mulai mengambil peran sebagai pelaksana dan penggerak pembinaan generasi di lingkungannya.
“Pemuda jangan hanya berada pada posisi menerima pembinaan. Mereka perlu mulai mengambil peran sebagai subjek pembinaan, ikut memikirkan program, menyampaikan gagasan, dan mendampingi generasi di bawahnya,” ujar Afrizal.
Menurutnya, perkembangan karakter Generasi Z juga membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda. Karena itu, ia mengajak peserta mendiskusikan berbagai inovasi dan improvisasi dalam menyampaikan dakwah agar lebih mudah diterima generasi muda.
“Cara berkomunikasi harus terus dipelajari. Nilai agama yang disampaikan tetap sama, tetapi pendekatan dan cara penyampaiannya perlu menyesuaikan karakter generasi serta perkembangan zaman,” katanya.
Ketua DPD LDII Kota Padang, Muhammad Iqbal, dalam materi kepemimpinan mengingatkan bahwa pemuda merupakan calon pemimpin yang akan melanjutkan kepengurusan dan pembinaan pada masa mendatang.
Ia menegaskan, keterlibatan dalam kegiatan dakwah dan pembinaan agama tidak harus menghambat pendidikan, pekerjaan, maupun cita-cita pribadi. Menurutnya, terdapat banyak contoh di lingkungan LDII yang mampu menjalankan aktivitas keagamaan seiring dengan pendidikan dan karier.
“Aktif dalam amar ma’ruf nahi mungkar bukan berarti masa depan dan cita-cita harus ditinggalkan. Keduanya bisa berjalan beriringan selama mampu mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menjalankan tanggung jawab dengan baik,” ujar Iqbal.
Iqbal yang juga tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Andalas menambahkan, perubahan zaman turut memengaruhi bentuk pengabdian generasi muda. Masifnya arus informasi di dunia digital, menurutnya, menuntut pemuda memiliki kemampuan komunikasi, literasi digital, dan kreativitas yang lebih baik.
“Beda zaman, berbeda pula pendekatan dakwah dan bentuk pengabdiannya. Anak muda hari ini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat, sehingga perlu memahami cara memanfaatkan ruang digital dengan bijak dan tetap membawa nilai-nilai agama,” katanya.
Selama tiga hari, peserta mendapat materi mengenai perjuangan dakwah, kepemudaan, kepemimpinan, serta peran generasi muda dalam memberikan kontribusi bagi agama dan masyarakat. (Nisa)
