
Semarang (27/1). Musyawarah Wilayah (Muswil) LDII Jawa Tengah VIII yang digelar di Patra Hotel & Convention Semarang menjadi ajang strategis dalam membahas peran agama menghadapi tantangan era disrupsi. Mengusung tema “Peningkatan Peran LDII sebagai Penggerak Moderasi Beragama di Era Disrupsi”, acara ini menghadirkan berbagai tokoh, termasuk Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, Adib Abdushomad.
Moderasi Beragama Berbasis Cinta
Dalam pemaparannya, Adib Abdushomad menekankan pentingnya nilai cinta sebagai dasar moderasi beragama. “Beragama itu melayani, berkorban, dan memberi dampak nyata bagi sesama,” ujarnya. Ia mengajak LDII dan seluruh peserta menerapkan kurikulum cinta yang mencakup pelayanan kepada masyarakat serta upaya menciptakan perdamaian.
Ecotheology: Agama dan Kelestarian Alam
Muswil ini juga menyoroti pentingnya kelestarian lingkungan melalui konsep ecotheology. Menurut Adib, menjaga harmoni dengan alam merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah. “Di era disrupsi, kerusakan lingkungan menjadi tantangan besar. Moderasi beragama juga berarti menjaga bumi ini untuk generasi mendatang,” katanya. Program seperti penanaman sejuta pohon dan edukasi lingkungan menjadi contoh konkret integrasi ajaran agama dengan aksi ekologi.
Humanisme sebagai Fondasi Moderasi
Selain cinta dan kelestarian alam, Muswil LDII Jateng VIII menekankan humanisme sebagai pilar utama moderasi beragama. “Ketika kita berbeda dalam iman, mari bersatu dalam kemanusiaan,” ujar Adib. Prinsip ini tidak hanya menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi bagi dunia internasional.
Pemberdayaan Ekonomi untuk Kesejahteraan Umat
Salah satu fokus utama dalam Muswil ini adalah pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Adib menyoroti pentingnya pelatihan keterampilan dan pengembangan usaha kecil sebagai langkah nyata dalam mengurangi kesenjangan ekonomi. “Ekonomi berkeadilan adalah wujud nyata moderasi beragama. LDII harus menjadi pelopor dalam memberikan solusi ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.
Dukungan Pemerintah untuk Kerukunan
Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, dalam sambutannya mengapresiasi LDII atas dedikasinya dalam menjaga kerukunan beragama. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan tokoh agama untuk membangun harmoni di tengah dinamika sosial. “Mari bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih baik,” ajaknya.
LDII: Pelopor Moderasi Beragama di Era Disrupsi
Muswil LDII Jateng VIII menjadi tonggak penting dalam perjalanan LDII sebagai penggerak moderasi beragama. Dengan pendekatan berbasis cinta, harmoni lingkungan, humanisme, dan pemberdayaan ekonomi, LDII membuktikan bahwa agama memiliki peran signifikan dalam memberikan solusi di era modern.
“Kerukunan umat beragama bukan hanya aset nasional, tetapi juga kontribusi besar Indonesia untuk perdamaian dunia,” ujar Adib Abdushomad optimis.
Di tengah era yang penuh tantangan, LDII Jawa Tengah siap menjadi lokomotif perubahan, membawa pesan damai yang menginspirasi tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.

Oleh: Ghoni Iman (contributor) / Fachrizal Wicaksono (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng



