DPD LDII Surabaya Helat Sarasehan Cara Berpakaian Syar’i bagi Remaja Putri

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Surabaya (10/2). DPD LDII Surabaya menghelat sarasehat cara berpakaian yang sesuai dengan syariah Islam. Acara bertajuk “Membangun Generasi Salehah Berakhlakul Karimah dan Berdaya Saing” tersebut, diselenggarakan pada Minggu (25/1), diikuti 45 peserta.

Panitia acara, Sania Taraska, menekankan pentingnya setiap anggota memahami jobdesk masing-masing dan mengembangkan kegiatan yang relevan, terutama yang berkaitan dengan peran perempuan. “Banyak kegiatan yang bisa diadakan dengan tema perempuan, seperti cooking class, beauty class, dan lainnya,” ujar Sania.

Ia juga menambahkan bahwa selain sebagai ajang pembelajaran, acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar pengurus remaja putri LDII di Surabaya. “Mungkin ada yang sudah saling mengenal, ada juga yang baru bertemu. Melalui acara ini, kita bisa mempererat silaturahmi sekaligus menyamakan persepsi tentang tugas seorang pengurus,” lanjutnya.

Sesi berikutnya diisi oleh Diva Amalia Zahra sebagai pemateri. Ia menjelaskan secara rinci tentang pembagian tugas dan tanggung jawab pengurus sesuai dengan bidangnya masing-masing, seperti ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara. Diva menegaskan bahwa profesionalisme seorang pengurus berawal dari pemahaman yang baik terhadap tugasnya.

“Seseorang bisa menjadi profesional karena ia tahu jobdesknya. Jangan sampai karena tidak memahami tugas, justru tidak bisa berkontribusi,” jelas Diva. Ia juga mengingatkan bahwa pengurus harus memahami etika berpakaian sesuai syariat Islam, terutama bagi perempuan.

“Pengurus adalah panutan bagi masyarakat. Jika pakaian kita tidak sesuai dengan standar syariat Islam, tentu akan terkesan kurang tepat,” imbuhnya.

Acara dilanjutkan dengan materi tentang pakaian syari yang disampaikan oleh Fitri Wulandari. Ia menguraikan definisi pakaian syari dalam Islam, yakni pakaian yang menutup aurat, tidak transparan, tidak ketat, serta menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Fitri juga memberikan contoh jenis pakaian yang sesuai dengan syariat serta menekankan pentingnya niat dan kesadaran dalam berpakaian.

“Sebagai muslimah, tidak boleh berpakaian sembarangan. Berpakaian harus sesuai dengan tuntunan agama Islam,” ujar Fitri.

Ia juga menambahkan bahwa berpakaian syari tidak berarti tidak bisa tampil modis. “Berpakaian syari justru membuat kita terlihat lebih anggun dan dihormati, serta tetap bisa mengikuti tren tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,” tambahnya. (ysy)

 

Oleh: Yessy Sy (contributor) / FF (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram