LDII Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyat di Sleman, Perkuat Akurasi Penentuan Awal Bulan Hijriah

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

 

Sleman (6/2). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Pendidikan dan Pelatihan Hisab dan Rukyat guna meningkatkan pemahaman ilmu falak serta akurasi penentuan awal bulan Hijriah. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 6 Februari 2025, di Griya Antariksa, Jalan Gejayan, Sleman, dan diikuti oleh 30 peserta dari berbagai pondok pesantren di Yogyakarta.

Pelatihan ini menjadi bagian dari program Pendidikan Agama dan Dakwah (PKD) LDII DIY. Para peserta mendapat pelatihan langsung mengenai ilmu falak—astronomi Islam—sebagai dasar penentuan awal bulan Hijriah, termasuk awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Mereka juga mempelajari metode hisab, yakni perhitungan matematis dalam menentukan posisi bulan, serta rukyat atau observasi langsung hilal menggunakan instrumen modern maupun alat tradisional.

Dalam sesi pelatihan, Mutoha Arkanuddin dari Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama DIY menekankan pentingnya kombinasi antara hisab dan rukyat dalam menentukan hilal. “Hilal tidak hanya bisa ditentukan dengan rukyat semata, tetapi juga harus dikombinasikan dengan metode hisab yang presisi. Ilmu falak berkembang pesat di Indonesia seiring dengan kemajuan teknologi dan penyempurnaan rumus-rumus astronomi. Dengan observasi yang teliti, hasil hisab akan semakin akurat dan mendekati presisi,” ujarnya.

Para peserta diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi pengamatan hilal menggunakan teleskop dan instrumen hisab lainnya. Pelatihan ini menjadi momentum penting bagi santri dan pengurus pesantren untuk memahami metode yang telah distandarisasi dalam penentuan awal bulan hijriah oleh Kementerian Agama.

Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kaidah ilmiah dalam praktik hisab dan rukyat. “Kami berharap para peserta, khususnya dari kalangan pondok pesantren, dapat memahami ilmu falak secara komprehensif serta menerapkan standar operasional prosedur dalam rukyatul hilal. Ini penting agar hasil penentuan awal bulan Hijriah selaras dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama,” ujar Atus.

Ia menambahkan bahwa pelatihan ini juga bertujuan untuk memperkuat sinergi antara LDII, Kementerian Agama, dan lembaga terkait dalam mendukung pengembangan ilmu falak di Indonesia. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan generasi muda Muslim, terutama dari kalangan pesantren, semakin memahami pentingnya metode ilmiah dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi potensi perbedaan dalam penentuan kalender Islam di Indonesia, yang kerap menjadi perdebatan di masyarakat.

——————–

Oleh: korlip ? (contributor) / Fachrizal Wicaksono (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram