Perbedaan Hari Raya Idul Fitri Dinilai Jadi Harmoni Umat, LDII Sumbar Ajak Masyarakat Jaga Kedamaian

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Padang (19/3). Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sumatera Barat menurunkan tim rukyatul hilal untuk mengikuti kegiatan pemantauan hilal penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah bersama Kanwil Kemenag Sumbar di lantai 4 Hotel Rangkayo Basa, Kota Padang, Kamis (19/3). Kegiatan tersebut diikuti berbagai unsur ormas dan komunitas astronomi sebagai bagian dari proses pengumpulan data sebelum penetapan resmi pemerintah melalui sidang isbat.

Sekretaris DPW LDII Sumatera Barat, H. M. Abdillah, mengatakan masyarakat Sumbar selama ini telah terbiasa dengan perbedaan penetapan 1 Syawal dan mampu menyikapinya secara dewasa. “Kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawal ini bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru menjadi bukti bahwa umat Islam memiliki kekayaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah,” ujar Abdillah.

Ia menjelaskan, di Sumbar terdapat sebagian jemaat tarekat yang merayakan Idul Fitri lebih awal, yakni pada Kamis, kemudian warga Muhammadiyah pada Jumat, dan pemerintah telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu berdasarkan hasil sidang isbat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta, hari ini, Kamis (19/3).

“Hal seperti ini sudah lazim terjadi dan tidak pernah menjadi permasalahan karena ihtiyar kita dalam ibadah itu vertikal bukan horisontal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga ukhuwah dan saling menghormati perbedaan yang ada,” katanya.

Menurut Abdillah, umat Islam perlu memahami bahwa penentuan awal bulan Hijriah memiliki dasar ilmiah dan syariat yang berbeda, seperti metode rukyat maupun hisab. “Perbedaan metode ini merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu mempersoalkan secara berlebihan,” ujarnya.

Ia menambahkan, yang lebih penting adalah menjadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan kedamaian di tengah masyarakat. “LDII mengajak seluruh umat Islam di Sumatera Barat untuk tetap menjaga suasana yang damai, saling menghormati, dan menjadikan perbedaan ini sebagai keindahan dalam kehidupan beragama,” tuturnya.

Sekretaris DPW LDII Sumbar H. M. Abdillah, dan Ketua Biro TIAT Rosyid Anwar menjelaskan kepada pewarta terkait hasil pantauan hilal di Hotel Rangkayo Basa, Padang.

Sementara itu, Ketua Biro Teknologi Informasi, Aplikasi dan Telematika (TIAT) DPW LDII Sumbar, Rosyid Anwar, mengatakan keterlibatan LDII dalam kegiatan rukyatul hilal merupakan bentuk partisipasi organisasi dalam mendukung proses penentuan awal bulan Hijriah secara ilmiah dan terbuka. “LDII ikut serta dalam kegiatan ini sebagai bagian dari kontribusi kepada umat, sekaligus mendukung proses rukyatul hilal yang dilakukan pemerintah bersama berbagai pihak,” jelasnya.

Ia mengatakan ketinggian hilal di Padang saat matahari terbenam berada di angka 2,5 derajat. “Hasil pengmatan sampai menjelang matahari terbenam, ketinggian hilal itu 2,5 derajat pada pukul 18.42 WIB,” ujarnya.

Menurutnya, angka tersebut masih belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, yakni minimal 3 derajat. “Sehingga posisi hilal di Padang belum masuk kategori 3 derajat, yang menjadikan hilal belum terlihat,” jelasnya.

Sidang isbat menjadi media yang strategis dalam menetapkan Hari Raya Idulfitri 2026 di Indonesia. Meski ada prediksi Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026, keputusan akhir telah di umumkan oleh menteri Agama bahwasanya 1 Syawal jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026. Perbedaan penetapan Lebaran adalah hal yang wajar, sehingga penting bagi masyarakat untuk tetap menghargai perbedaan yang ada. (Nisa/Berlian)

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram