Kolaborasi Dengan PPG, LDII Padang Ajak Anak Belajar Menghargai Teman Lewat Film Jumbo

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Padang (19/4). Bidang Bimbingan Konseling (BK) Pokja Penggerak Pembina Generus (PPG) di bawah Bagian Pendidikan Keagamaan dan Dakwah LDII Kota Padang menggelar Festival Generus Mini dengan agenda pemutaran film Jumbo karya Ryan Adriandhy di GSG Ponpes Miftahul Huda Padang, Sabtu (19/4/2026). Penayangan film tersebut dilakukan melalui platform Netflix yang telah dirilis secara resmi.

Ketua PPG, Hery Handayana, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan program rutin bulanan yang dikemas dalam bentuk festival mini. “Kegiatan ini biasanya diisi dengan berbagai rangkaian seperti perlombaan, praktik BCM, munaqosah, murajaah, dan lainnya, namun kali ini kami hadirkan pendekatan berbeda melalui media film,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemutaran film dipilih sebagai sarana edukasi yang lebih mudah diterima anak-anak. “Kami dari PPG bersama bidang BK melihat fenomena bullying sudah lazim terjadi bahkan pada anak usia sekolah dasar, sehingga perlu metode pembelajaran berbasis media agar pesan lebih cepat dipahami,” jelasnya.

Menurut Hery, peran orang tua menjadi sangat penting di tengah derasnya arus digitalisasi. “Anak pra remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga mulai mengakses konten yang tidak sesuai usia, seperti kekerasan, bullying, pornografi, atau hoaks. Orang tua perlu lebih detail memperhatikan tumbuh kembang dan dengan apa anak-anak bertumbuh,” tegasnya.

Penanggung jawab kegiatan, Viona Putri Amalia, menyampaikan film Jumbo sarat nilai edukatif yang relevan bagi anak-anak. “Banyak hal positif yang bisa diambil, terutama bagaimana anak memahami sebab dan akibat dari setiap perbuatan serta belajar bertanggung jawab atas kesalahan,” katanya.

Viona menambahkan, film tersebut juga mengajarkan nilai empati dan kebersamaan. “Anak-anak diajak untuk tidak merendahkan teman, saling membantu, serta berani menghadapi masalah tanpa kekerasan,” ujarnya.

Film Jumbo yang diproduksi oleh Visinema Pictures dan dirilis pada Maret 2025 itu menjadi salah satu film animasi lokal tersukses dengan lebih dari 7 juta penonton dalam waktu kurang dari sebulan. Kisahnya berfokus pada Don, seorang anak bertubuh besar dengan imajinasi tinggi yang harus menghadapi perundungan, namun bangkit dengan dukungan sahabat-sahabatnya seperti Nurman, Mae, dan Meri.

Hery menilai, cerita dalam film tersebut sangat relevan dengan pembinaan generasi muda. “Film ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan pentingnya dukungan keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan, terdapat sejumlah pelajaran penting bagi orang tua dari film tersebut. “Orang tua harus hadir dalam setiap perjalanan anak, membekali ketahanan mental sejak dini, serta menjadi pendengar yang baik, bukan hanya memberi nasihat,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, orang tua juga perlu membantu anak mengenali dan mengelola emosi. “Emosi itu hal yang wajar, tetapi harus disalurkan dengan cara yang sehat, serta menjadikan keluarga sebagai tempat yang aman secara emosional bagi anak,” tambahnya.

Di sisi lain, nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. “Kami tekankan kepada anak-anak untuk tidak melakukan bullying, berani bermimpi, menjaga kepercayaan, serta saling membantu dalam menghadapi kesulitan,” ujar Viona.

Menurut panitia, pendekatan edukasi melalui film dinilai efektif karena mampu menggabungkan hiburan dengan pembelajaran karakter. “Nilai-nilai seperti empati, keberanian, ketulusan, dan ketangguhan adalah fondasi penting bagi generasi muda,” kata Hery.

Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut dan memberikan dampak positif yang lebih luas. “Kami ingin menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan sosial,” pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram