Berbuat Baik pada Tetangga, Haruskah?

Share to :
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang bermakna, tidak saja terhadap manusia, namun kepada seluruh alam dan makhluk ciptaan Allah SWT, islam akan selalu menjadi rahmat.

Salah satu kasih sayang yang dapat diteladani dari amalannya Rasulullah ﷺ, adalah ketika beliau selalu berbuat baik pada tetangga. Ketauladanan ini tidak memisahkan antara muslim dan non-muslim, tidak pula berbeda antara si kuat dan si lemah.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ

Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan juga kepada hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya”. (HR. Bukhari)

Hadist di atas menyiratkan bahwa orang yang menyatakan dirinya beriman, harus memanifestasikan keimanannya dengan berbuat baik pada tetangga. Bagaimana cara berbuat baik pada tetangga?

1. Memperbanyak senyum dan salam saat berpapasan

2. Tidak mempersulit keperluan tetangga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَمْنَعْ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah seseorang melarang tetangga untuk menyandarkan kayunya di dinding rumahnya.” (HR. Bukhari)

3. Saling memberi sedekah makanan dan hadiah

سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Aku mendengar Thalhah bin ‘Abdullah dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapa dari keduanya yang paling berhak untuk aku beri hadiah?” Beliau bersabda: “Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu.” (HR. Bukhari)

Tetangga adalah saudara terdekat kita, tentu saja saat kita membutuhkan bantuan dan pertolongan, merekalah yang pertama kali membukakan pintu. Jangan sampai kita menjadikan tetangga hanya tempat menumpahkan pahit getir belaka, sementara yang manis-manisnya tak pernah dibagikan. Tanpa disadari, sangat mungkin kita menyakiti tetangga, sengaja maupun tidak.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris.” (HR.Bukhari)

Kita memahami hadist di atas bahwa, dalam hukum waris, hanya saudara, keluarga terdekat, dan yang memiliki pertalian darah yang berhak menjadi ahli waris. Namun Rasulullah memberikan kiasan yang lagi-lagi menyiratkan bahwa hampir saja saudara sedarah itu sama kedudukannya dengan tetangga.

Islam mengajarkan konsep berbuat baik kepada tetangga, di samping itu Rasulullah memberikan tauladan langsung kepada umat di masa itu untuk benar-benar mengimplementasikan konsep tersebut. Tentu kita jangan hanya menerima apalagi meminta kebaikan saja dari tetangga, akan tetapi jadilah pemberi kebaikan. Nilai sebuah kebaikan bukan ditentukan oleh jumlah atau harganya, melainkan ketulusannya. Percayalah, tidak ada kebaikan yang kecil, karena semuanya bernilai pahala yang akan membahagiakan jiwa.

Penulis: LINES Sumatera Barat.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram