Jakarta (16/5). Dalam rangka menyambut Milad ke-47, Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) menggagas sebuah inovasi bersejarah dengan menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) khusus penyandang disabilitas. Acara puncak ini akan dilangsungkan pada 25 Mei 2025 di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Pondok Gede, Jakarta Timur. Untuk memperkuat kolaborasi, jajaran Pengurus Pusat MDI melakukan kunjungan resmi ke Kantor DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta pada Jumat (9/5) lalu.
Ketua Umum PP MDI, KH Choirul Anam, mengungkapkan bahwa MTQ Disabilitas ini menjadi momentum penting yang pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang dan apresiasi bagi saudara-saudara kita dari kalangan difabel seperti tunanetra dan tunadaksa, agar mereka bisa mengekspresikan kecintaan terhadap Al-Qur’an,” ujarnya.
MTQ tersebut akan mempertandingkan tiga kategori utama: murotal, tilawah, dan tahfidzul Quran. Terdapat tiga jenjang hafalan yang dilombakan, yakni lima, 10, dan 30 juz. Diperkirakan sekitar 100 peserta dari wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat akan ambil bagian dalam kompetisi yang sarat makna ini.
Puncak acara akan ditandai dengan babak grand final pada malam 24 Mei, yang turut dihadiri oleh berbagai tokoh nasional. Salah satunya adalah Ketua Umum Majelis A’la MDI, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Melalui MTQ Disabilitas ini, kami ingin mempertegas bahwa MDI tidak hanya berdakwah secara konvensional, tapi juga membangun semangat inklusi, persaudaraan (ukhuwah), dan toleransi,” tambah KH Choirul Anam.
Lebih jauh, ia menyampaikan komitmen MDI untuk mengembangkan ajang ini ke skala nasional dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional pada Desember 2025 mendatang.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai langkah nyata dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.
“Bangsa ini milik semua lapisan masyarakat. Kegiatan seperti MTQ Disabilitas memberikan panggung bagi penyandang disabilitas untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan negeri,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa LDII telah menjalankan program dakwah serupa, seperti pengajian rutin khusus untuk tunarungu yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Kami berharap kolaborasi ini bisa memperluas jangkauan dakwah inklusif yang lebih menyentuh semua kalangan,” ujar KH Chriswanto.
Selain MTQ Disabilitas, rangkaian Milad MDI juga akan diramaikan dengan berbagai pelatihan keterampilan dan ekonomi kreatif, seperti workshop pembuatan abon serta pelatihan UMKM bagi para santri. Kegiatan ini diharapkan bisa memberdayakan pesantren dan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.