Jangan Sedih di Ramadhan ini

Malam Ramadhan
Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Bulan Ramadhan adalah bulan suci. Ramadhan kali ini hadir membuat hati gembira sekaligus sedih karena situasi saat ini. Banyak kebarokahan Ramadhan seperti shalat taraweh berjamaah di masjid, sahur dan berbuka puasa bersama bahkan beri’tikaf di 10 akhir Ramadhan di masjid tidak lagi dapat dilaksanakan. Hal ini tidak terjadi di negara kita saja, namun hampir di seantero jagad mendapatkan persoalan yang sama. Semua ini tidak lain dalam rangka ikhtiar memperlambat penyebaran virus corona. Banyak umat Islam telah menyuarakan keprihatinan mereka tentang bagaimana mereka akan mempraktikkan Ramadhan tahun ini.

Janganlah bersedih…..

Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari).

Riwayat yang lain dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ
“Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah, padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.” (HR. Ahmad).

Mengomentari hadits di atas Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,
وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا
“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan (amal ibadah) lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6: 136)

Jangan sedih Saudaraku…
berdasarkan Sabda Rasulullah di atas, bagi kita di Ramadhan2 sebelum ini yang rutin taraweh ke masjid atau beri’tikaf, serta ibadah jama’i lainnya yang terhalangnya ditahun ini إن شاء الله tetap dicatat pahalanya bagi kita.
Ketentuan ini dapat kita raih sepanjang kita tetap usaha menjaga taraweh berjamaah dengan keluarga di rumah. Serta bersungguh-sungguh mengepolkan ibadah 10 malam akhir Ramadhan dalam rangka meraih Lailatul Qadar. Ingatlah, meraih Lailatul Qadar tidak harus di masjid….

Ada yang bertanya, Ustadz bukankah dua hadits di atas khusus untuk orang yang safar dan orang yang sakit.

Jawab…. dalam kondisi wabah dengan status pandemi saat ini, diri kita dan semua orang dianggap sakit atau setidaknya berpotensi membawa virus penyakit. Nabi melarang kita membahayakan diri sendiri dan orang lain
…. لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Menghindari kemudharatan lebih diutamakan dari pada mengejar kemanfaatan…..

Laa tahzan….

Ba”da Taraweh #dirumahsaja 11 Ramadhan 1441 H

M. Ari Sultoni

Sumber Gambar : Zaid ali from Pixabay

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram