
Bengkulu (6/6). Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Bengkulu menggelar kegiatan Dialog Kerukunan Umat Beragama dan Moderasi Beragama Tingkat Provinsi Bengkulu pada 27–28 Mei 2025. Bertempat di Hotel Splash, Kota Bengkulu, kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta yang berasal dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan tokoh lintas agama dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Plh. Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Arsan Suryani, dan menghadirkan sejumlah tokoh dari MUI, FKUB, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Badan Kemakmuran Masjid (BKM), hingga Perti.
Pada hari pertama, Ketua FKUB Kota Bengkulu, Yulkamra, menyampaikan pentingnya dialog internal dan eksternal antarormas dalam membentuk Islam moderat yang mengayomi semua kalangan. Ketua PW Muhammadiyah Bengkulu, Fazrul Hamidy, mengangkat peran ormas Islam dalam menjaga stabilitas nasional melalui pendekatan moderasi yang inklusif. Sementara itu, Rohimin, menegaskan pentingnya legalitas organisasi kemasyarakatan sebagai dasar hukum dalam menjalankan peran sosial keagamaan secara sah dan bertanggung jawab.
Keesokan harinya, Ketua PWNU Bengkulu, Khaerudin Wahid, menekankan bahwa ormas Islam berperan strategis dalam memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat majemuk. Ia menyebut ormas bukan hanya penjaga moral umat, tetapi juga penggerak toleransi dan perdamaian. Dialog berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka. Berbagai isu aktual turut dibahas secara langsung, antara lain soal perizinan rumah ibadah, praktik toleransi antarormas dan legalitas organisasi.
Kegiatan ini ditutup pada Rabu siang oleh perwakilan Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Arsan Suryani. Dalam arahannya, ia menyampaikan komitmen Kementerian Agama untuk terus menggelar forum semacam ini secara rutin setiap tahun. “Kita akan terus memperluas jangkauan peserta agar semangat kerukunan ini meresap ke seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Dialog ini menunjukkan bahwa keragaman bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama. Bengkulu membuktikan bahwa jalan menuju Indonesia yang damai adalah melalui dialog. (Ds)
Oleh: S09TRI.Bengkulu9 (contributor) / FF (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng



