Ketua Umum DPP LDII: Menegakkan Demokrasi dengan Pers

Share to :
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Jakarta (9/2). 9 Februari adalah hari lahirnya pers nasional. Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) didirikan oleh para wartawan pejuang 75 tahun yang lalu, di hari itu. Dalam rangka kemerdekaan dan berdirinya Indonesia, turut andil peran pers sebagai agen perubahan sepanjang sejarah.

“Di tengah tantangan media sosial, semoga pers selalu istiqomah menjalankan fungsi mengedukasi, memberi informasi, memberi hiburan, dan alat kontrol demokrasi,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso. Tidak hanya pahlawan yang bertempur secara fisik melahirkan Indonesia, tetapi pers juga memiliki banyak jasa dalam sejarah perjuangan bangsa.

Dalam dua dekade terakhir, tambah Chriswanto, media massa menghadapi tantangan serius dari media sosial yakni kecepatan informasi dan ekonomi, “Dunia cepat berubah, media sosial menyerap iklan dan informasi dengan cepat, bahkan bukan lagi lembaga pers tapi dapat ditayangkan langsung secara individu,” ujar Chriswanto.

Informasi langsung, sensasional, yang semua dikerjakan oleh satu orang, menggantikan kerja pers yang selalu mengedepankan cek ricek dan liputan dua sisi (cover both side), diolah reporter hingga redaktur. “Dan masyarakat hanya mementingkan sensasionalnya. Pada akhirnya inilah yang membuat gaduh. Secara pribadi, seseorang yang tidak memiliki self censorship akan serta merta menyebarkan informasi. Ini yang gawat,” papar Chriswanto.

Akibatnya mudah ditebak, dibanding berita yang disuguhkan media sosial, sebagian besar orang lebih meyakini kabar-kabar sensasional, “Apalagi para selebritis media sosial juga menggunakan potongan-potongan kutipan media massa untuk memperkuat opininya, menjadi penyebab masyarakat yang tak paham informasi kian beralih ke media sosial,” papar Chriswanto.

Namun, untuk mengejar ketertinggalannya, ia juga memperhatikan media massa kini juga memanfaatkan media sosial. Chriswanto mengingatkan, agar media merenungkan kepada siapa mereka bekerja mengenai pengelolaan informasi? “Secara fisik media bekerja untuk perusahaannya, namun secara filosofi, pikiran, dan perjuangan, mereka bekerja untuk rakyat Indonesia,” papar Chriswanto.

Dengan bekerja untuk rakyat, menurut pandangannya, media massa bisa memberikan informasi yang bertanggung jawab, tak sekadar dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme cek dan ricek serta peliputan dua sisi.

Ia menuturkan, seyogyanya, dengan mementingkan kepentingan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jernih dan mendudukkan sesuatu pada tempatnya, maka lembaga pers telah bekerja dengan etika dan hati nurani, “Karena dalam rangka membuat kehidupan rakyat Indonesia semakin baik adalah tugas pers sebagai tiang keempat demokrasi. Bisnis pers bukan soal keuntungan semata,” ulas Chriswanto.

Walhasil, menurutnya, pers jangan terjebak pada sensasional dan memanfaatkan kekacauan atau kontroversial untuk kepentingan bisnisnya, “Pers jangan lagi berprinsip bad news is good news, media seperti ini bakal ditinggalkan oleh para pembaca atau pemirsanya,” ujarnya. Solusinya suguhkan informasi yang mendidik dan menggugah daya kritis masyarakat.

Ia berpendapat, pers harus turut dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945. Chriswanto menyambut baik Hari Pers Nasional bertema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan.”

Tema itu disertai dengan segala pemberitaannya, akan membangkitkan semangat bangsa Indonesia dalam menghadapi krisis dan upaya membangkitkan ekonomi nasional, pungkasnya, “Selamat Hari Pers Nasional, semoga selalu menciptakan Indonesia yang lebih baik,” tutupnya.

Sementara itu Ketua DPW LDII Sumatera Barat M Ari Sultoni mengatakan pers merupakan bagian hakiki dalam demokrasi itu sendiri. 

“Pers merupakan salah satu dari empat pilar demokrasi dan ini yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Menurutnya, Sumatera Barat merupakan salah satu aktor penting lahirnya pers karena banyak tokoh pers yang lahir dari Sumatera Barat mulai dari Rohana Kudus, Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan lainnya.

“Kita berharap pers nasional menjadi lebih baik secara kualitas dan bertahan dalam kondisi yang tidak menentu seperti saat ini,” harapnya. 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram