Keutamaan Ramadhan

Lampu Ramadhan

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah berjalan beberapa hari. Ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk memperbanyak amal ibadah, sebab banyak sekali keutamaan-keutamaan dalam bulan yang suci ini. Akan tetapi, sebaiknya memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan ini jangan semata-mata hanya ketika datang bulan Ramadhan saja, melainkan juga sebagai latihan untuk amalan-amalan setelah Ramadhan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka”. (HR. Bukhari)

سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Dia mendengar Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahannam ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu”. (HR. Bukhari)

Di bulan Ramadhan juga Nabi banyak beramal kebaikan.

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril ‘alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril ‘alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihis salam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus (HR. Bukhari).

Contoh kebaikan yang dapat kita amalkan yaitu sholat malam.

أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dirinya pernah bertanya kepada Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bagaimanakah shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” Aisyah menjawab: “Shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari sebelas raka’at, baik pada bulan Ramadhan atau di selain bulan Ramadhan, yaitu beliau mengerjakan empat raka’at, jangan di tanya bagaimana bagus dan panjangnya, setelah itu beliau shalat empat raka’at, dan jangan di tanya bagaimana kualitas bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga raka’at.” Aisyah radliallahu ‘anha melanjutkan: aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum berwitir?” beliau menjawab: “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur, namun hatiku tetap terjaga.” (HR. Abu Daud)

Adapun amalan lainnya yaitu memperbanyak berdzikir kepada Allah.

عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ تَسْبِيحَةٌ فِي رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيحَةٍ فِي غَيْرِهِ

Dari Az Zuhri, ia berkata: “satu tasbih pada Bulan Ramadhan lebih baik daripada seribu tasbih ada waktu selainnya.” (HR. Tirmidzi)

Semangat Ramadhan kita perlu diasah kembali. Kita jadikan puasa sebagai suatu ibadah, bukan hanya menahan haus dan lapar semata, mengurangi hal-hal yang tidak akan mendatangkan pahala dan tidak bermanfaat (lahan) dengan banyak membaca Al-Qur’an dan mengusahakan khatam minimal satu kali, melaksanakan shalat tarawih setiap malam, meraih lailatul qadar di salah satu malam dari sepuluh malam akhir dengan mempersungguh ibadah dalam mencarinya, kemudian mengakhiri Ramadhan dengan membayar zakat fitrah. Untuk memotivasi kita dapat menganggap ini adalah Ramadhan terakhir kita? Agar kita dapat beribadah sebanyak mungkin.

(Nisa Ulkhairiyah/LINES Sumbar)

Image by Shanto Mazumder from Pixabay

1 Komentar

  1. Alhamdulillah jaza killahu khoiro Ustadzah…. Semoga kita lebih meningkatkan ibadah di bulan ini dan Allah segera angkat wabah Covid-19 ini dari bumi ini… aamiin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.