Meneruskan Kebaikan Ramadhan

Meneruskan Kebaikan Ramadhan
Meneruskan Kebaikan Ramadhan

Bulan yang penuh rahmat sudah lewat, sekarang kita sudah kembali ke situasi di mana setan-setan sudah tidak lagi dibelenggu, kita kembali bertarung dengan hawa nafsu antara memperbanyak ibadah atau terlena dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

              Apakah amalan-amalan rutin yang baik dari bulan Ramadhan masih kita kerjakan, atau malah sudah kita lepas dan tinggalkan? Apakah kita membuat Al-Qur’an kembali merindukan kita untuk membacanya? Sholat-sholat sunnah yang dulu ketika bulan Ramadhan rasanya rugi sekali untuk ditinggalkan, bagaimana dengan sekarang, apakah kita masih meluangkan waktu istirahat kita di saat yang lainnya tertidur dengan mengerjakan sholat sunnah tahajud dan memperbanyak amalan-amalan lainnya? Tentu semua pertanyaan itu hanya diri kita sendiri yang mampu menjawabnya.

              Motivasi beramal harus terus kita cari dan kita perbarui. Sebab telah jelas diterangkan dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an, bahwa kelak di akhirot nanti, semua baik yang hanya kita rencanakan, maupun yang sudah kita perbuat dan kerjakan itu nanti akan dipersaksikan. Ditunjukkan kepada masing-masing kita. Akan tiba saat dimana kita tidak lagi dapat bertumpu pada orang tua kita, saudara-saudara kita, justru akan lari dari kita, saking sibuknya mengurusi urusannya masing-masing.

              Sebelum beramal, tentu kita harus ketahui ilmunya, dan amalan-amalan yang sifatnya maghdoh, harus sesuai tuntunan Allah Rosul, dan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, harus kita cari dan kita pelajari. Sehingga motivasi mengaji terus meningkat, dan setelah mengaji kita dapat mengamalkannya. Termasuk diriwayatkan dalam HR. At-Tirmidzi, Nabi bersabda barang siapa yang ingin melihat hari kiamat dengan jelas, maka ia supaya membaca Surat At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq. Ini juga merupakan salah satu kiat bagi kita untuk menambah keimanan, ya, dengan mengaji. Mengaji dapat mengingatkan kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah, untuk yakin bahwa sebenarnya dunia itu hanyalah kesenangan yang menipu, untuk yakin bahwa akhiratlah yang harusnya menjadi prioritas kita dan bukanlah dunia. Kita dapat saja menunda-nunda dalam beramal, tetapi kita harus ingat bahwa mati itu datangnya sewaktu-waktu, dan tempat akhirnya seseorang ditentukan berdasarkan amalan penutupnya.

              Ada seseorang yang hidup beramal jelek, hobi melakukan kemaksiatan, malas dalam beribadah, tetapi karena ia sudah diqodar untuk menjadi ahli surga, Allah berikan akhir hayatnya bisa bertaubat dan matinya dalam keadaan yang baik. Ada juga seseorang yang selama hidupnya sering beribadah, memperbanyak amalan-amalan baik, tapi karena ia sudah diqodar Allah menjadi penduduk neraka, sebelum matinya ia murtad dan keluar dari agama islam.

              Tentu kita harus percaya bahwa 50 ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, manusia sudah dicatat qodarnya masing-masing, rezekinya, ajalnya, jodohnya, apakah ia tergolong orang yang beruntung atau malah merugi. Hanya saja harus tetap senantiasa berusaha agar menjadi seseorang yang beruntung, memperbanyak mendengarkan nasehat, mencari hikmah dalam mengkaji ilmu, terus berdo’a agar selalu Allah tetapkan dalam keimanan, karena memang hati kita sangat mudah berbolak-balik jadi kita sebagai sang pemilik hati harus tau kiat-kiat untuk semangat kembali di saat-saat keimanan kita sedang melemah. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan Allah senantiasa melindungi kita dari godaan syaithan dan rasa malas dalam beribadah serta dapat Istiqomah Setelah Ramadhan. (Nisa Ulkhairiyah – LINES Sumbar)

Gambar oleh adelbayoumi dari Pixabay 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.