Jakarta (7/4). Menteri Haji dan Umroh (Menhaj) Republik Indonesia, KH. Mochamad Irfan Yusuf meminta LDII agar menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dan masyarakat. Hal itu ia ungkapkan saat memberikan materi pada Munas X LDII hari pertama, di Grand Ballroom Minhaajurrosyidiin, Ponpes Minhaajurrosyidiin, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026).
“Saat ini, adalah momentum yang tepat untuk memperkuat peran bersama. Bukan hanya memperkuat internal organisasi, tetapi juga memperluas kontribusi. Tidak hanya membahas internal organisasi, tetapi juga membahas kondisi kebangsaan,” ucap KH M. Irfan.
KH M. Irfan yang akrab disapa Gus Irfan tersebut menegaskan, membangun Indonesia adalah kerja kolektif. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri. Ketika bisa berjalan bersama, maka tidak hanya kuat, tetapi juga akan dihormati dunia,” pungkasnya.
“Presiden Prabowo menegaskan, Indonesia harus swasembada pangan, air, dan energi. Apapun yang terjadi di dunia luar, jika sudah swasembada pangan, air dan energi, maka tidak akan terpengaruh,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian global. “Maka, tema Munas X LDII ini sangat relevan. Mengingat kondisi geopolitik global saat ini, yang mengganggu rantai pasok energi dan pangan, serta stabilitas perdagangan nasional,” tutur Gus Irfan.

Sementara itu, terkait dengan pelaksanaan Haji yang terdampak Perang Iran dengan Israel dan AS, ia mengatakan, pihaknya tetap berkomunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi agar pelaksanaan haji tetap lancar. “Dan sampai saat ini, semua masih sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Gus Irfan mengungkapkan, dampak perang tersebut, mengakibatkan adanya penambahan biaya. “Misalnya tiket pesawat, penambahan biaya dapat mencapai Rp10 juta per jamaah,” imbuhnya.
Melihat kondisi tersebut, Ia mengatakan, Presiden Prabowo berpesan, apapun yang terjadi, pertimbangan utama berangkat atau tidak, adalah pertimbangan keamanan dan keselamatan jamaah haji Indonesia.
“Kedua, jika terjadi penambahan pembiayaan, jangan dibebankan pada jamaah haji. Kami juga mengadakan rakor terbatas dengan Menko Perekonomian dan sedang menghitung. Bagaimana mekanisme pembiayaan jika terjadi perubahan harga,” pungkas Gus Irfan.
Lebih lanjut ia mengatakan, situasi Timur Tengah, memberikan pembelajaran, membangun bangsa, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Ketahanan nasional, akan kokoh, jika dibangun oleh seluruh elemen bangsa. Mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat itu sendiri,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki keberagaman yang tinggi, dan semua itu membutuhkan perekat. “Yakni, nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama dan karakter masyarakat. Tanpa itu, bangsa Indonesia akan mudah terpecah dan tidak akan menjadi bangsa yang tangguh,” jelasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, ia menilai, LDII dapat terus meningkatkan perannya. “Melalui dakwah yang menyejukkan, penguatan karakter, serta kontribusi dalam kehidupan sosial. Untuk menjaga keharmonisan dan ketahanan nasional,” tutup Gus Irfan.


