Menjauhi Sifat Iri dan Dengki

Sumber: Dreamstime.com
Share to :
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Pepatah pembuka untuk artikel kita minggu ini. Ungkapan legendaris tersebut acap kali menyiratkan bahwa hati kita sedang dihinggapi benih penyakit, entah besar atau kecil, entah berbahaya atau tidak.

Manusia cenderung memiliki sifat suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, membandingkan kelemahannya dengan kelebihan orang lain, membandingkan apa yang ia tidak punya dengan apa yang orang lain punya. Kebiasaan seperti inilah yang bisa menimbulkan bibit-bibit hasad/dengki.

Dengki ialah sahabat karib benci yang menjadikan akar dari segala penyakit hati. Ulama berpendapat bahwa dengki adalah niatan untuk menghilangkan nikmat yang Allah SWT berikan pada orang lain. Apabila dengki sudah berubah jadi benci dan rasa itu terus dipupuk maka sewaktu-waktu benci itu akan meledak menjadi amarah.

‎قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‎لَا تَحَاسَدُوا، ولَا تَبَاغَضُوا ، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا 

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling dengki dan iri, jangan saling marah, dan jangan pula saling benci, tapi jadilah kalian wahai hamba Allah, bersaudara,” (HR Bukhari)

Dari hadist diatas dapat kita simpulkan bahwasanya dengki, benci dan marah saling bertautan satu sama lain. Tak terpisahkan. Mereka bertiga adalah produk hati yang output-nya sangat tercela disisi Allah SWT. Seperti iblis yang sudah hidup ribuan tahun di surga ketika diperintah oleh Allah SWT untuk sujud kepada Nabi Adam AS, ia enggan melakukannya lantaran rasa dengki yang sudah menggumpal di hatinya.

Sama hal nya dengan kisah dua putra Nabi Adam AS yang bernama Qabil dan Habil. Ketika tumbuh dewasa keduanya diperintah untuk melaksanakan kurban dari hasil pekerjaannya masing-masing. Singkat kata kurban yang diterima oleh Allah SWT adalah kurban milik Habil dikarenakan Habil menyerahkan hasil ternak terbaiknya sedangkan Qabil menyerahkan hasil kebun terburuknya. Dari sini timbul lah rasa dengki Qabil terhadap Habil dan terjadi lah peristiwa pembunuhan.

Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang memperoleh nikmat tentu akan menjadi sasaran kedengkian dari orang yang bersifat dengki. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Untuk mengatasi penyakit di atas hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Rasa yang muncul di permukaan itu apakah marah? Apakah benci? Atau hanya rasa dengki/iri kita saja? Setelah kita tahu apa yang sebenarnya kita rasakan barulah kita bisa menemukan solusi yang tepat untuk menyelamatkan hati kita.

Jika itu marah, maka kita bisa padamkan dengan kesabaran. Memang tidak mudah saat hati kita sudah sangat lara dan amarah rasanya ingin segera dilontarkan. Tapi kita harus ingat bahwa Rasulullah SAW bersabda “Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya,”. Jika itu benci, maka bisa kita padamkan dengan memaafkan. Memaafkan artinya melepaskan. Dan pahamilah bahwa tak ada satupun manusia di dunia ini yang terlepas dari salah dan dosa. Semua pasti pernah melakukan kesalahan. Ingat, bahwa kita juga pernah salah dan kita dimaafkan.

Jika yang kita rasakan itu dengki/iri dengan nikmat orang lain, maka paksakan diri ini untuk bisa menerima atas semua pencapaian mereka. Pahami bahwa Allah menciptakan masing-masing kita dengan kelebihan dan kekurangan. Tahan diri kita untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Jangan sampai kita memberi gangguan pada orang yang kita dengki. Baik dengan perkataan maupun perbuatan. Terlebih lagi kita doa kan kepada mereka agar nikmatnya terus bertambah. Bukankah mendoakan kebaikan untuk orang lain sama hal nya mendoakan untuk diri kita sendiri?

Dan ketahuilah :

‎إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ (رواه ابوداود)

Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu dapat memakan kebajikan-kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar,” (HR Abu Daud). 

Tentunya kita tidak ingin kebaikan yang sudah kita kumpulkan habis begitu saja hanya karena rasa dengki yang tidak menentu arahnya ini. Mulai sekarang, mari kita lebih mensyukuri apa yang telah kita miliki dan berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain. Perbanyak memaafkan, perbanyak memberi. Jadilah hidup seperti bersaudara, dimana saja kita berada.

Penulis: Bunga – LINES Sumbar

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram