MERAIH KEMULIAAN LAILATUL QODAR

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Pada bulan Ramadhan sering kali kita mendengar kata “Lailatul Qodar”, baik itu pada saat mendengarkan ceramah dan tulisan-tulisan baik media cetak maupun elektronik. Tahukah kalian apakah sebenarnya Lailatul Qodar itu ?

Secara bahasa “Lail” artinya malam sedangkan “Qodar” adalah penentuan ada juga yang menerangkan Lailatul Qodar adalah malam yang mulia karena di malam itu penuh barokah seperti telah difirmankan oleh alloh dalam QS.Ad dukhon ayat 3-6

(إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ)

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan

(فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ)

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah

(أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ)

Urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul

(رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)

Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

(وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ)

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

(لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

(تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ)

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

(سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ)

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Peristiwa Lailatul Qodar adalah saat turunnya Al-Qur’an dalam jumlah yang sempurna yaitu 30 juz, 114 surat , 666 ayat dan 1.027.000 huruf dari Lauhil Mahfudz  sampai ke Baitul Izza di langit dunia . Selanjutnya Al-Qur’an disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur per-surat bahkan per-ayat sesuai dengan peristiwa yang terjadi saat itu . Sampai sempurna 30 juz dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun.

عن علي بن عروة قال: ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما أربعة من بني إسرائيل عبدوا الله ثمانين عاما لم يعصوه طرفة عين فذكر أيوب وزكريا وحزقيل بن العجوز ويوشع بن نون قال فعجب أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم من ذلك فأتاه جبريل فقال يا محمد عجبت أمتك من عبادة هؤلاء النفر ثمانين سنة لم يعصوه طرفة عين فقد أنزل الله خيرا من ذلك فقرأ عليه “إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر ليلة القدر خير من ألف شهر” هذا أفضل مما عجبت انت وأمتك قال فسر بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم والناس معه.#في تفسير ابن كثير#

Artinya: Dari Ali bin ‘urwah dia berkata : Rasulullah suatu hari pernah bercerita ada empat orang zaman bani israel mereka beribadah pada Allah selama 80 tahun tanpa ma’syiat/ menentang pada alloh sekejap matapun, mereka adalah Ayub , Zakaria , Khizqil Bin ‘Ajuz dan Yusya’ Bin Nun . Maka hal itu membuat para sahabat Rasulullah ta’jub karenanya. Maka datanglah Malaikat Jibril menjumpai Rasulullah dan berkata : “Wahai Muhammad, umatmu heran akan ibadahnya empat orang Bani Israel yang ibadahnya selama 80 tahun tanpa maksiat sekejap matapun, maka ketahuilah Muhammad bahwa Allah telah menurunkan sesuatu yang lebih baik dari pada demikian itu. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Ini (Lailatul Qodar) adalah lebih utama dari pada apa yang dita’jubkan olehmu dan umatmu, sebab hal itulah yang menyebabkan Rasulullah dan umatnya merasa bergembira .

#Saat-saat turunnya lailatul QODAR#
Dalam hadits nabi tidak menjelaskan secara terperinci kapan waktu yang tepatnya. Akan tetapi Nabi menjelaskan secara garis besar seperti hadits di bawah ini .

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ #رواه البخاري #
Artinya : Dari ‘Aisyah Radliallahu ‘Anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”.

Dan juga diriwayatkan dalam hadits muslim bahwa sahabat nabi yang bernama Ubay Bin Ka’b yakin betul bahwa Lailatul Qodar turun pada malam ke-27 .

عَنْ عَبْدَةَ بْنِ أَبِي لُبَابَةَ وَعَاصِمٍ هُوَ ابْنُ بَهْدَلَةَ سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ وَزِرُّ بْنُ حُبَيْشٍ يُكْنَى أَبَا مَرْيَمَ يَقُولُ قُلْتُ لِأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ إِنَّ أَخَاكَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ يَقُمْ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ يَغْفِرُ اللَّهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَقَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ لَا يَتَّكِلَ النَّاسُ ثُمَّ حَلَفَ لَا يَسْتَثْنِي أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ قَالَ قُلْتُ لَهُ بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ قَالَ بِالْآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِالْعَلَامَةِ أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا#رواه الترمذي #

dari Abdah bin Abu Lubabah serta ‘Ashim yaitu Ibnu Bahdalah mereka telah mendengar Zirrb Hubaisy yang diberi kunya Abu Maryam, ia berkata; saya berkata kepada Ubai bin Ka’ab saudaramu yaitu Abdullah bin Mas’ud berkata:  Barang siapa yang melakukan shalat satu tahun maka ia mendapatkan Lailatul Qodar. Kemudian Ubai berkata: Semoga Allah merahmati Abu Abdur Rahman, sungguh Ia telah mengetahui bahwa Lailatul Qodar itu ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, yaitu malam ke  dua puluh tujuh. Akan tetapi ia ingin agar orang-orang tidak bergantung kepadanya. Kemudian Ia bersumpah dan tidak mengucapkan Insya Allah, bahwa malam tersebut adalah malam kedua puluh tujuh. Zirr berkata: Aku katakan kepadanya, berdasarkan apakah engkau mengatakan hal tersebut wahai Abu Al Mundzir? Ia berkata: dengan tanda yang telah dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dengan tanda bahwa matahari terbit pada hari itu tidak memiliki sinar yang menyengat.

Sebenarnya nabi telah diberi wahyu oleh Allah tentang saatnya Lailatul Qodar akan tetapi diangkat kembali oleh Allah sehingga Nabi tidak mengetahui kapan tepatnya Lailatul Qodar turun.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ #رواه البخاري #

Artinya: Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qodar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qodar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan) “.

#Cara Rasulullah mencari lailatul QODAR#
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ فَاعْتَكَفَ عَامًا حَتَّى إِذَا كَانَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يَخْرُجُ مِنْ صَبِيحَتِهَا مِنْ اعْتِكَافِهِ قَالَ مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ فَمَطَرَتْ السَّمَاءُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَكَانَ الْمَسْجِدُ عَلَى عَرِيشٍ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فَبَصُرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ مِنْ صُبْحِ إِحْدَى وَعِشْرِينَ#رواه اللخاري#

Artinya: dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam I’tikaf pada sepuluh malam pertengahan bulan dari Ramadhan lalu orang-orang mengikutinya. Hingga ketika malam kedua puluh satu, yaitu malam ketika Beliau kembali ke tempat I’tikaf Beliau, Beliau berkata: “Siapa yang telah beri’tilkaf bersamaku maka hendaklah dia beri’tikaf pada sepuluh malam-malam akhir. Sungguh aku telah diperlihatkan tentang malam Lailatul Qodar ini namun kemudian aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada malam sepuluh akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Kemudian pada malam itu langit menurunkan hujan. Pada waktu itu atap Masjid masih terbuat dari dedaunan hingga air hujan mengalir masuk ke dalam Masjid. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada dahi Beliau ada sisa air dan tanah di waktu pagi pada hari kedua puluh satu”

Keutamaan I’ktikaf

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْمُعْتَكِفِ هُوَ يَعْكِفُ الذُّنُوبَ وَيُجْرَى لَهُ مِنْ الْحَسَنَاتِ كَعَامِلِ الْحَسَنَاتِ كُلِّهَا#رواه ابن ماجة#

Artinya: Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan orang yang beri’tikaf: “Ia berdiam diri dari dosa-dosa dan dialirkan baginya kebaikan seperti orang yang melakukan semua kebaikan”.

Hal-hal yang berkaitan dengan I’tikaf

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا وَلَا يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنْهُ وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ #رواه ابوداود#

Artinya: Dari Aisyah bahwa ia berkata: yang disunahkan atas orang yang beri’tikaf adalah tidak menjenguk orang yang sedang sakit, serta tidak mengiringi jenazah serta tidak menyentuh wanita, tidak bercampur dengannya dan tidak keluar untuk suatu keperluan kecuali karena sesuatu yang harus ia lakukan (buang air besar/kecil) dan tidak ada I’tikaf kecuali disertai puasa dan tidak ada I’tikaf kecuali di Masjid Jami’. (nug)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram