MUI DKI Jakarta: Mulianya Menjadi Seorang Mubaligh-Mubalighoh

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Padang (5/3). Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono menjamu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, KH Munahar Muchtar  pada Kamis (3/3). Ia berkunjung ke pesantren dalam rangka silaturahmi usai menyerahkan bantuan korban erupsi Gunung Semeru kepada MUI dan DPD LDII Lumajang di kantor DPW LDII Jawa Timur pada Selasa (1/3).

Ia disambut oleh Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, KH Ubaidillah Al Hasaniy, didampingi Ketua DPD LDII Nganjuk, Murkani, dan para pengurus ponpes. Di depan para santri ponpes tersebut, KH Ubaidillah memberi kata sambutan. Menurutnya, KH Munahar adalah seorang kyai yang gemar silaturahim.

“Silaturahim memperbanyak rezeki dari Allah, dan Allah memanjangkan umur,” ujar Kyai yang biasa disapa Kyai Ubaid. Menurutnya, para santri yang ada di sini adalah para calon juru dakwah, yang bakal menjadi _muballigh-muballighoh_.

Menurut Kyai Ubaid, dirinya tak merasa khawatir para santri bila masih berada di pesantren, “Mereka masih satu pemahaman dan satu cita-cita. Persoalannya bila mereka sudah terjun di tengah-tengah masyarakat, mereka akan banyak menghadapi tantangan,” papar Kyai Ubaid.

Ia mengkhawatirkan tapak kakinya beda, “Andaikan sama tapak kakinya tapi melangkahnya beda. Ada yang ke kanan ke kiri, ada yang ke depan, ada yang ke belakang, bahkan akhirnya  _kejeglong_ tidak terasa. Terperosok tidak terasa. Sekarang banyak ajaran sesat tapi sulit dideteksi, kelihatannya sama padahal tidak,” pungkas KH Ubaidillah.

Era media sosial, menurut KH Ubaid membuat pilar kebangsaan terancam radikalisme. Ia meminta KH Munahar untuk berceramah, memberikan wawasan agar para santri tetap _istiqomah_ dalam berdakwah.

KH Munahar mengingatkan tugas _muballigh-muballighoh_ tidak gampang dan tidak mudah, “Saya sama dengan kalian, menimba ilmu dan ditempa dengan ilmu pengetahuan. Tak ada yang mudah dalam meraih cita-cita, tapi dengan kesungguhan keberhasilan itu bisa diraih,” paparnya.

Ia mengingatkan mubaligh itu pekerjaan yang mulia, “Kita ini umat akhir zaman, juru dakwah itu profesi mulia karena berani mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran,” tegasnya.

KH Munahar mengingatkan, _muballigh-muballighoh_ itu beragam pembawaannya, “Ada yang suka berdakwah dengan humor, tapi ada juga yang juga tidak bisa tertawa,” ujarnya. Tapi, seorang juru dakwah, harus menyampaikan selaras dengan kecerdasan umat, “Kalau umat yang dituju adalah petani, maka berdakwahlah melalui pertanian. Bila yang didakwahi teknokrat, maka juru dakwah harus bisa menjelaskan secara teknokrat,” ujarnya.

Ia membuat permisalan, juru dakwah bisa menjelaskan mobil dan pesawat bergerak karena mesin. Mesin dibuat manusia dari kecerdasan otak manusia, “Otak yang membuat Allah, jadi semua ini dari Allah,” ujarnya menjelaskan kepada para santri.

KH Munahar juga mengingatkan supaya berdakwah selalu disertai niat karena Allah, bukan karena uang atau harta, “Lihatlah juru dakwah yang berdakwah karena uang, dua tahun mereka menganggur karena pandemi Covid-19. Taka da panggilan untuk berceramah,” ujarnya. Sebaliknya, mereka yang berceramah tidak karena uang, masih terus diundang dan rezekinya terus mengalir.

Dakwah, menurutnya harus dilakukan dengan lemah lembut dan berakhlak mulia, “Tirulah Nabi Muhammad, tidak mendendam bila disakiti, diam ketika dicaci,” ujarnya. Kesabaran tersebut penting, agar umat Islam merasa sejuk.

Dakwah juga sifatnya tidak memaksa, tapi mendidik. Ia menyontohkan ada seseorang yang ingin berislam tapi tak ingin meninggalkan judi, zina, dan mabuk, “Lalu apa kata Nabi, ya silakan tapi jangan bohong,” ujarnya berkisah. Lalu fulan itu, berpikir kalau dia berzina, berjudi, dan mabuk saat ditanya Nabi Muhammad tentu tak bisa berbohong.

Karena itu, ia malah tidak berzina, berjudi, dan mabuk-mabukkan, “Suatu hari Nabi bertanya, apakah kamu masih mabuk, zina, dan berjudi? Lelaki itu menjawab tidak Nabi,” ujarnya. Di sinilah dakwah, tidak memaksa tapi mendidik.

Menutup tausiyah Kyai Munahar, Kyai Ubaid menambahkan bahwa mempunyai angan, harapan dan cita-cita menjadi seorang dai-daiyah atau muballigh-muballighoh itu sangat mulia, karena mendapat penghargaan langsung dari Rasulullah SAW seperti dalam sabdanya, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mencari ilmu dan mengajarkannya”, juga seperti sabda Nabi pula, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang mampu memberi manfaat pada manusia lain”.

Sekaitan dengan hal itu Wakil Ketua DPW LDII Sumater Barat H.  Afrizal Y, SE  menambahkan bahwa di Minangkabau, kami sangat terbantu dengan adanya mubaligh dan mubalighoh sebagai wasilah ilmu.

“ Mereka para penyampai ilmu tersebut adalah pewaris ilmunya rasulullah ”, Imbuhnya.

Selain itu kehadiran para santri ditengah-tengah masyarakat juga semakin menghidupkan surau-surau serta masjid-masjid sekalipun ditengah pandemi ini, Afrizal juga menambahkan bahwa Minangkabau dengan syariat islam sudah seiring jalan sejak lama.

“ Dimasa lalu, saat agama Islam masuk ke Nagari Minangkabau, nenek moyang orang Minangkabau bersepakat untuk menjadikan Islam sebagai agama masyarakatnya, sehingga secara filosofis Masyarakat Minangkabau memegang falsafah ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’, ini bermakna Agama dan dan adat berjalan sejajar dan beriringan “ Pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram