Jakarta (9/4). Dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari kesenjangan pendidikan hingga krisis karakter generasi muda, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan dan penguatan nilai-nilai karakter sebagai fondasi masa depan bangsa. Pernyataan itu, ia sampaikan saat Musyawarah Nasional (Munas) X LDII, di Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta Timur, pada Kamis (9/4/2026).
“Kami melihat, di antara masalah yang dihadapi, adalah kesenjangan pendidikan. Banyak warga Indonesia, yang belum memperoleh kesempatan pendidikan. Baik karena faktor ekonomi, geografi, fisik hingga keamanan,” ujar Abdul Mu’ti.
Untuk itu, ia menegaskan, pihaknya berkomitmen melaksanakan amanah konstitusi. “Agar seluruh anak Indonesia, memperoleh haknya sebagai warga negara. Implementasinya, kami mulai dengan memperbaiki sarana dan prasarana sekolah. Ada program revitalisasi satuan pendidikan. Secara bertahap, sekolah di Indonesia yang rusak, akan terus diperbaiki,” katanya.
Lebih lanjut, ia berkomitmen memperbaiki karakter generasi muda. “Salah satu program penguatan pendidikan karakter yang kami laksanakan, adalah “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Mulai dari pembiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat hingga tidur cepat,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, kebiasaan yang buruk, akan berpengaruh pada mental, spiritual, intelektual dan kehidupan sosial. “Generasi masa kini cenderung malas gerak (mager). Bahkan, cenderung beragama secara longgar, di mana, angka ateisme cenderung meningkat,” pungkas Abdul Mu’ti.

Persoalan lainnya, ia menemukan gejala generasi cemas. “Generasi yang fisiknya terlihat sehat, namun mudah layu. Hal itu, disebabkan berbagai tekanan dalam kehidupan,” tuturnya.
Ia menilai, hal tersebut karena merasa pesimis terhadap masa depan. “Mereka cenderung jauh dari kehidupan beragama. Bahkan, banyak anak muda, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,” kata Abdul Mu’ti.
Salah satu penyebabnya, ia menyoroti keluarga yang tidak lagi mampu menjadi institusi pendamping anak untuk mendapatkan ketenangan spiritual. “Banyak pula dari mereka, berasal dari keluarga broken home. Ini persoalan yang tidak bisa dianggap sederhana,” tegas Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti juga melihat, anak muda mengalami kecemasan akibat berlebihan dalam menggunakan media sosial. “Terjadi perundungan yang luar biasa dari media sosial. Untuk itu, kegiatan belajar dan mengajar di masa kini, kami fokuskan pada pemaknaan yang mendalam. Yang dipelajari tidak usah terlalu banyak. Kami mendorong pembelajaran yang memuliakan guru dan murid,” imbuhnya.
Caranya, ia menjelaskan, kurikulum dikurangi kontennya. “Dan kurikulum yang tidak tertulis, diperkuat. Melalui lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Peserta didik dibiasakan dengan hal-hal yang baik. Melalui pembiasaan nilai-nilai akhlakul karimah, baik di rumah, sekolah hingga masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.
Lebih lanjut, untuk menghadapi berbagai persoalan dan tantangan tersebut, ia menegaskan, Kemendikdasmen tidak bisa bekerja sendiri. “Penguatan karakter dan penanaman rasa cinta tanah air, harus dilaksanakan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Bahkan, dibutuhkan juga dukungan dari ormas keagamaan,” tutupnya.



