Jakarta (12/3). Cendekiawan Nahdlatul Ulama sekaligus akademisi Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta, Ahmad Ali, meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius, dari Sabang sampai Merauke.” Peluncuran sekaligus diskusi buku itu berlangsung di Sinabung Eight pada Selasa (10/3).
Buku tersebut lahir dari kajian yang menyoroti perilaku positif dan nilai moral yang berkembang di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Dalam karyanya, Ahmad Ali mengulas bagaimana nilai kebajikan diinternalisasikan dalam kehidupan warga LDII sehingga membentuk karakter yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan dasar religiusitas.
Kegiatan peluncuran dan bedah buku ini diselenggarakan oleh Penerbit Deepublish Yogyakarta. Sejumlah pakar pendidikan Islam diundang sebagai penanggap. Mereka diminta memberikan pandangan akademis terhadap konsep “Profesional Religius” yang disebut sebagai identitas warga LDII.
Dalam pemaparannya, Ahmad Ali menjelaskan bahwa ketertarikannya meneliti LDII bermula dari berbagai dinamika dan kontroversi yang ia dengar sejak 2001. Situasi tersebut mendorongnya melakukan penelitian langsung agar memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai kondisi di lapangan.
“Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak mereka ketahui. Prasangka negatif sering kali lahir dari ketidaktahuan. Sebagai orang NU yang awalnya tidak mengenal LDII, saya tidak ingin menjadi musuh bagi siapapun. Saya ingin menjadi kawan dengan cara memahami sistem mereka secara objektif,” ujar Ahmad Ali.
Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukan dengan pendekatan positif. Tujuannya untuk memahami praktik keagamaan dan nilai moral yang berkembang di lingkungan LDII. Hasil riset itu kemudian melahirkan buku pertamanya mengenai nilai-nilai kebajikan dalam jamaah LDII.
Salah satu temuan penting dalam kajian tersebut adalah keseragaman sistem pendidikan yang diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Sistem itu mencakup berbagai aspek pembinaan, mulai dari kebersihan dan kesucian (Thoharoh) hingga penerapan 29 Karakter Luhur. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya buku jilid kedua.
“Ternyata, rahasia di balik perilaku positif warga LDII yang saya tulis di buku pertama adalah sistem pendidikan yang diterapkan secara masif dari Sabang sampai Merauke. Mereka memiliki platform yang sama dalam membentuk karakter profesional religius,” tambah Ahmad Ali.
Diskusi buku ini juga menghadirkan tiga akademisi sebagai pembedah untuk memberikan perspektif ilmiah terhadap karya tersebut. Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dede Rosyada, menyampaikan apresiasinya terhadap penerbitan buku tersebut serta model pendidikan yang dijalankan LDII.
“Dalam buku jilid kedua ini dijelaskan bahwa pendidikan formal yang dikembangkan memiliki orientasi keterampilan sesuai dengan kondisi lokal, sehingga ketika siswa lulus mereka memiliki bekal kemampuan yang dapat digunakan dalam dunia kerja,” ujar KH Dede Rosyada.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat program Merdeka Belajar yang digagas pemerintah. Ia menilai lulusan pendidikan seharusnya tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kemampuan yang bisa diterapkan secara nyata di masyarakat.
“Lebih dari itu, penguatan dimensi agama di LDII tidak sekadar menjadi wacana atau teori, tetapi sudah menjadi kultur dan kebiasaan. Agama itu lahir melalui pembiasaan, dan LDII sukses membangun budaya tersebut,” tuturnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Nur Afif, serta akademisi Made Saihu. Keduanya menguraikan sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk melihat sejauh mana konsep “Profesional Religius” telah diterapkan di lingkungan LDII.
Melalui peluncuran dan diskusi buku ini, para akademisi berharap kajian mengenai sistem pendidikan serta nilai kebajikan di lingkungan LDII dapat menjadi referensi ilmiah. Mereka juga berharap kajian tersebut membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai praktik pendidikan keagamaan di Indonesia.


