Sarasehan IPSI Purwakarta, Persinas ASAD Tegaskan Pembinaan Pesilat Berkarakter

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

 

 

Purwakarta (19/7). Dalam Sarasehan Perguruan dan Sosialisasi Peraturan Pertandingan Pencak Silat (PPPS) 2025 yang digelar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Purwakarta di Billinia Factory Store, Senin (14/7), Persinas ASAD menegaskan komitmennya terhadap pembinaan atlet silat yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter.

Acara ini dihadiri perwakilan dari seluruh perguruan silat se-Kabupaten Purwakarta, termasuk Persinas ASAD yang selama ini dikenal konsisten membina pesilat usia dini hingga remaja dengan pendekatan nilai-nilai luhur budaya dan akhlak mulia.

Ketua IPSI Purwakarta, Arief Kurniawan, menyambut baik keterlibatan aktif Persinas ASAD dalam forum tersebut. Ia menegaskan pentingnya sinergi antarperguruan untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat.

Senada dengan itu, narasumber dari Pengprov IPSI Jawa Barat, Deni Akbar, mengapresiasi semangat pembinaan berkelanjutan yang ditunjukkan Persinas ASAD. “Dengan pendekatan pembinaan yang komprehensif seperti yang dilakukan Persinas ASAD, pencak silat tak hanya menjadi ajang meraih medali, tetapi juga wahana pembentukan karakter generasi muda,” ujarnya.

Dalam diskusi terbuka, utusan Persinas ASAD memaparkan sistem pelatihan yang mereka terapkan, yakni berjenjang, terstruktur, dan disertai penanaman nilai etika silat sejak dini. Selain mempersiapkan atlet menghadapi PPPS 2025, pihaknya juga menekankan pembinaan mental dan disiplin sebagai bekal utama menghadapi kejuaraan.

“Silat bukan sekadar olahraga tanding. Ini adalah warisan budaya yang harus dijaga marwahnya. Oleh karena itu, kami fokus pada pembinaan pesilat yang berprestasi sekaligus memiliki integritas dan kepribadian kuat,” tegas perwakilan Persinas ASAD.

Sarasehan ini ditutup dengan foto bersama dan peneguhan komitmen kolaborasi antarperguruan untuk membangun generasi pesilat Purwakarta yang unggul, sportif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pencak silat Indonesia.

 

Oleh: KG Ing Suro (contributor) / Riska Sabilah (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram