Seminar Putri LDII Karang Agung Ilir Bahas Pentingnya Kesucian dan Busana Syar’i

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Banyuasin (5/6). PC LDII Karang Agung Ilir, Banyuasin, Sumsel, menggelar seminar keputerian bertema ‘Thoharoh dan Berpakaian Syar’i’ pada Minggu (1/6) di Masjid Miftahul Huda, Karang Sari. Diikuti puluhan remaja putri se-Kecamatan, acara ini menjadi sarana membentuk muslimah yang suci, cerdas spiritual, dan percaya diri dalam balutan syariat. Selain remaja, guru-guru TPQ juga turut dilibatkan.

“Kami ingin guru memahami pentingnya bersuci, menjaga aurat, dan membina disiplin ibadah sejak dini,” ujar Ustadzah Nasipah. Ia menekankan bahwa usia baligh bukan sekadar biologis, tetapi titik krusial pembinaan iman dan tanggung jawab. Materi berpakaian syar’i disampaikan Ustadzah Helly Umami yang mengajak remaja menjadikan busana syar’i sebagai bentuk ketaatan sekaligus identitas mulia. “Meski awalnya terasa berat, jika diniatkan karena Allah, akan jadi ringan dan kebiasaan. Syariat itu pelindung, bukan belenggu,” tegasnya.

Bersama Ustadzah Netri Marwiyah, sesi dilanjutkan dengan tips berpakaian syar’i yang tetap modis. Mereka mencontohkan padupadan busana yang anggun, nyaman, dan kekinian. “Tampil stylish tetap bisa, asal percaya diri dan cermat memilih warna, bahan, dan model,” ujar Netri, disambut antusias peserta. Ketua PC LDII Karang Agung Ilir, Mochamad Zaka, menegaskan kegiatan itu sebagai bentuk komitmen LDII membina muslimah sebagai tiang keluarga dan masyarakat.

“Di tengah tren busana yang menyimpang, remaja LDII harus punya pijakan kuat. Ini investasi jangka panjang untuk peradaban,” tegasnya. Zaka menyebut pembinaan keputrian tidak hanya soal busana, tapi karakter dan kesadaran beragama. “Kami ingin membentuk masyarakat madani lewat perempuan,” imbuhnya.

Di lokasi terpisah, digelar pula pembinaan remaja putra oleh Ustadz H. Nurhuda, Nursyahid, dan Miftahul Mubarok, serta Ketua PPG Karang Agung Ilir, Drs. Sunarta. Fokusnya: nilai keislaman, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Kedua kegiatan ini mencerminkan sinergi antara organisasi keagamaan, keluarga, dan masyarakat dalam membina generasi muda yang unggul intelektual, matang spiritual, dan kuat emosional.

“Kami ingin mereka tumbuh sebagai pribadi percaya diri, cerdas berpenampilan, dan teguh menjalankan syariat,” pungkas Zaka. Di tengah zaman yang permisif, kegiatan semacam ini menjadi peneguh arah bagi generasi muda. Bukan hanya mengikuti tren, tapi menjaga langkah dalam koridor iman dan nilai suci yang terjaga. (Mahar Prastowo)

Oleh: korlip ? (contributor) / Noni Mudjiani (editor)

Kunjungi berbagai website LDII

DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram