Padang (17/2). Hilal Ramadan 1447 Hijriah tidak terlihat di Sumatera Barat berdasarkan pemantauan yang dilakukan di Masjid Al Hakim, Kota Padang, Selasa (17/2/2026). Hasil pantauan menunjukkan posisi hilal berada di bawah ufuk sehingga secara astronomi mustahil untuk terlihat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumatera Barat, Mustafa, menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal masih jauh di bawah ufuk. “Secara teori (hisab) tadi, posisi hilal itu jauh di bawah ufuk, sehingga tidak mungkin bisa terlihat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bulan terbenam lebih dahulu dibandingkan matahari. “Bulan terbenam sekitar pukul 18.33 WIB, sementara matahari terbenam sekitar pukul 18.39 WIB. Pada saat terbenam matahari itu minus artinya di bawah ufuk,” jelasnya.
Mustafa menegaskan bahwa tinggi hilal di wilayah Sumatera Barat berada pada minus 0 derajat 58 menit. “Artinya tidak mungkin bisa terlihat kalau berdasarkan dari sudut pandang perhitungan tadi,” ungkapnya.
Meski demikian, proses rukyatul hilal tetap dilaksanakan untuk memverifikasi hasil hisab di lapangan. “Pemantauan tetap kita lakukan sampai matahari terbenam sebagai bentuk verifikasi atas perhitungan yang sudah ada,” katanya.

Sekretaris DPW LDII Sumatera Barat, H. M. Abdillah, menyampaikan bahwa pihaknya telah menugaskan jajaran pengurus organisasi untuk ikut serta dalam pemantauan hilal di berbagai daerah. “LDII menugaskan DPD LDII Kota dan Kabupaten serta Pimpinan Wilayah yang berada di daerah potensial untuk melakukan pemantauan hilal,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa saat ini, LDII Sumbar menghadiri undangan dari Kanwil Kemenag Sumbar untuk melakukan pengamatan bersama. “Alhamdulillah bersama tim rukyat Kanwil Kemenag Sumbar, BMKG Padang Panjang dan organisasi bidang astronomi dan geofisika dapat bersama-sama mendukung program pemerintah dengan melakukan pengamatan hilal 1 Ramadan,” jelas Abdillah.
Sementara itu, Kepala BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, mengatakan secara astronomi posisi hilal berada di bawah ufuk. “Pantauan menunjukkan posisi hilal minus 1 derajat, sehingga secara astronomi berada di bawah ufuk dan mustahil diamati mata telanjang,” katanya.
Menurutnya, kondisi geografis Sumatera Barat turut memengaruhi sulitnya pengamatan hilal. “Wilayah kita berada di garis khatulistiwa dengan lintang 0 derajat, sehingga pertumbuhan awan cukup tinggi dan sering menutup langit saat momen rukyatul hilal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peluang langit cerah saat Ramadan relatif kecil dalam beberapa tahun terakhir. “Ada periode tertentu ketika awan relatif lebih terbuka, seperti Juni atau Juli, tetapi tidak bertepatan dengan Ramadan. Kemungkinan kondisi ideal itu baru terjadi sekitar 10 tahun ke depan,” tutupnya. (Rohmat/Nisa)



