Sleman (26/7). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII pada Minggu (26/7/2026). Forum tersebut membahas arah organisasi lima tahun ke depan sekaligus memilih Ketua DPW LDII DIY periode 2026–2031.
Muswil VIII mengusung tema “Penguatan SDM Profesional Religius untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan dan Budaya dalam Mendukung Pancamulia Daerah Istimewa Yogyakarta”. Tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap tantangan bonus demografi, transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, dan ketahanan pangan.
Ketua DPW LDII DIY periode 2021–2026, Atus Syahbudin, berharap Muswil VIII dapat melahirkan pemimpin baru yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Saya berharap Muswil bisa memilih ketua baru yang lebih muda. Kalau pun nanti yang terpilih lebih senior, tentu harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan tantangan zaman,” ujar Atus, Sabtu (25/7/2026).
Ia menyatakan tidak memiliki keinginan untuk kembali memimpin LDII DIY selama dua periode berturut-turut. Namun, Atus menegaskan akan menerima apabila forum Muswil kembali memberikan amanah kepadanya.
Menjelang Muswil VIII, LDII DIY juga memaparkan sejumlah program ketahanan lingkungan berbasis masyarakat. Program tersebut meliputi pengelolaan sampah, pengembangan Kampung Iklim atau ProKlim, konservasi air, ketahanan pangan, hingga pemanfaatan energi baru terbarukan.
Atus mengatakan, kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari program pengabdian LDII untuk bangsa. Menurutnya, ketahanan lingkungan perlu dibangun melalui edukasi dan keterlibatan masyarakat di tingkat komunitas.
“Komitmen lingkungan juga diwujudkan melalui pengembangan dan pendampingan intensif dua lokasi Program Kampung Iklim,” ujar Atus dalam Media Gathering Pra Muswil VIII LDII DIY di Sleman.
Ia mencontohkan Padukuhan Sangurejo, Sleman, yang meraih ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2024 dan penghargaan Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY. Selain itu, Padukuhan Kembang, Girimulyo, Kulon Progo, juga meraih Sertifikat ProKlim Utama 2025.
Dalam pengelolaan sampah, LDII DIY mengembangkan sejumlah gerakan berbasis masjid dan masyarakat, antara lain Gerakan Kyai Peduli Sampah, Sedekah Sampah Akbar, Sampah Jadi Jariyah, Jugangan Ing Omah, dan Jugangan Ing Masjid.
Sejak 2023, LDII DIY telah menginisiasi 313 Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid. Melalui program tersebut, masyarakat, pondok pesantren, dan tempat ibadah didorong mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial.
Program lingkungan juga diperkuat melalui pembuatan biopori, pengolahan sampah organik menjadi kompos, konservasi air, serta pemanfaatan energi bersih. LDII DIY juga mengembangkan pemasangan lampu tenaga surya di Kampung ProKlim Sangurejo dan pemanenan air hujan di Gedung Serbaguna Mantrijeron.
Melalui Muswil VIII, LDII DIY berharap penguatan sumber daya manusia, ketahanan lingkungan, dan budaya dapat terus dikembangkan. Program tersebut diharapkan mendukung pembangunan berkelanjutan serta terwujudnya Pancamulia DIY.



