LDII Padang Ajak Generasi Muda Kembali Ke Masjid di Malam Pergantian Tahun

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Padang (31/12). Momen pergantian tahun selama ini kerap identik dengan tiup terompet, bertanggang (begadang) bersama teman sebaya, atau berhura-hura melampiaskan hati gadang (kegembiraan). Namun, menurut ketua DPD LDII Kota Padang H. M. Iqbal, tradisi semacam itu tidak memiliki pijakan kuat, baik dalam ajaran Islam maupun dalam nilai adat Minangkabau yang berlandaskan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).

M. Iqbal meyakini bahwa dalam Islam tidak mengenal perayaan tahun baru Masehi, terlebih jika diisi dengan kegiatan yang cenderung negatif. Hal serupa juga tidak dijumpai warisan leluhur nenek moyang orang Minangkabau. “Dalam pandangan adat dan syarak, pergantian tahun bukan untuk dirayakan dengan bersenang-senang, tetapi dijadikan momentum muhasabah, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.

Ia menuturkan, dahulunya anak-anak dan remaja diajak wirid ke surau atau masjid untuk mengaji, tadarus Al-Qur’an, mendengarkan ceramah dan nasihat para tetua dan ulama, alih-alih berhura-hura mengelilingi kota dimalam pergantian tahun. Tradisi tersebut menurutnya, merupakan bagian dari sistem pendidikan surau yang telah lama membentuk karakter masyarakat Minangkabau.

Iqbal mengakui, arus budaya luar yang identik dengan perayaan tahun baru Masehi kini semakin memengaruhi generasi muda. Namun, ia menekankan bahwa pendekatan Minangkabau bukan sekadar melarang, melainkan mengarahkan. “Orang tua kita dulu tidak hanya melarang, tapi mengajak. Anak-anak diajak ke surau, diisi dengan kegiatan yang baik, sehingga tidak ada ruang untuk keluyuran atau hura-hura,” katanya.

Ia juga mengingatkan pituah orang tua Minangkabau agar anak kemenakan tidak tasyabbuh, yakni meniru kebiasaan yang tidak sejalan dengan nilai agama dan adat. “Pituah ini sangat kuat dalam budaya kita. Jangan sampai generasi muda kehilangan jati diri karena ikut-ikutan tradisi yang tidak sesuai dengan syarak,” ujar Iqbal yang merupakan dokter spesialis Bedah RS. Hermina Itu.

Ketua Bagian Pendidikan Agama dan Dakwah (PKD) LDII Kota Padang H. Nana Mulyana mengutuip hadits Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ . رواه مسلم

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

Bahkan secara umum kita dilarang menyerupai mereka dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. رواه أبوداود

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR.Abu Daud)

Dalam konteks kekinian, Nana Mulyana menilai imbauan tersebut semakin relevan karena Sumatera Barat masih menghadapi dampak bencana alam di berbagai daerah. Ia mengajak masyarakat menjadikan malam pergantian tahun sebagai waktu memperbanyak istighfar, doa, dan kepedulian sosial, bukan pesta dan konvoi. “Pergantian waktu sejatinya mengingatkan kita bahwa umur berkurang dan tanggung jawab semakin besar,” tuturnya.

Nana menuturkan bahwa saat ini, didamping para mubaligh dan orang tua, terdapat empat titik pelaksanaan pengajian Akhir Tahun di Kota padang, yaitu di Masjid Miftahul Huda KPIK, Miftahul Jannah Surau Balai, Al Ikhlas Ulak Karang dan Baiturrosyid Dadok Tunggul Hitam. ” Kurang lebih 300 remaja melaksanakan wirid malam pergantian tahun di Masjid naungan LDII, ini semata-mata agar menjauhkan generasi kita dari pengaruh akhir zaman, dan juga memperkuat program Pemkot Padang untuk kembali ke surau atau masjid,” jelasnya.

Ia berharap, tradisi menghidupkan surau dan masjid pada malam pergantian tahun dapat terus dilestarikan di Ranah Minang. “Minangkabau punya jati diri yang kuat. Kalau kita konsisten memegang adat dan syarak, serta mendengar pituah ulama dan umara, insyaallah generasi muda akan tumbuh dengan akhlak yang baik, beriman, dan tidak larut dalam budaya yang bertentangan dengan nilai agama dan adat,” pungkasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram