Muhasabah Tahun Baru, Ketum DPP LDII Dorong Perbaikan Moral Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Share to :
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Surabaya (31/12). Perjalanan bangsa Indonesia pada 2026 akan memasuki usia 81 tahun. Sebagai sebuah negara-bangsa, Indonesia terus menghadapi dinamika, baik di tingkat domestik maupun global, yang menuntut adanya perbaikan berkelanjutan agar sejalan dengan cita-cita pendirian negara. Karena itu, pemerintah bersama seluruh rakyat Indonesia perlu terus melakukan muhasabah, salah satunya pada momentum pergantian tahun. Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menyampaikan pesan tersebut saat menyambut pergantian tahun 2026.

Ia menjelaskan, sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk muslim, Indonesia juga tidak lepas dari residu demokrasi, yakni munculnya kelompok-kelompok kepentingan tertentu. Dalam praktik demokrasi, selalu ada potensi sekelompok kecil orang menguasai sebagian besar masyarakat dan sumber daya melalui oligopoli, atau para pemilik modal besar yang membentuk oligarki untuk menopang kekuasaan di tingkat lokal.

“Sebagai negara demokrasi kita tidak menafikkan realitas tersebut. Amerika Serikat, Korea Selatan, hingga Rusia bisa maju karena tumbuhnya konglomerasi. Namun kuncinya adalah pemerintah yang kuat, yang mengedepankan keadilan sosial dan kesejahteraan umum, sehingga negara menjadi superior dan tidak tunduk pada kepentingan investor semata,” tegasnya.

KH Chriswanto menambahkan, pemerintah juga dihadapkan pada pekerjaan rumah besar terkait persoalan lingkungan hidup akibat investasi yang tidak terkelola dengan baik. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI tahun 2024, deforestasi mencapai 175.000 hektar, dengan sisa luas hutan Indonesia sekitar 95,5 juta hektar. Ancaman kerusakan hutan masih terus mengintai akibat ekspansi perkebunan sawit, pengelolaan tambang, serta kebakaran hutan.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan muhasabah atas capaian pembangunan nasional. Tujuannya agar cita-cita mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, benar-benar dapat diwujudkan. Ia juga mengingatkan runtuhnya peradaban-peradaban besar dunia seperti Mesopotamia, Mesir Kuno, Lembah Indus, Tiongkok Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan Persia.

“Peradaban-peradaban besar itu memiliki teknologi yang sangat maju pada masanya, bahkan melampaui bangsa-bangsa lain yang sezaman. Namun kemerosotan moral menjadi pemicu utama kehancurannya, dan kini hanya menyisakan bangunan-bangunan sebagai pengingat dan pelajaran bagi generasi setelahnya,” tegas KH Chriswanto.

Menurutnya, berbagai persoalan kebangsaan tersebut akan menjadi salah satu topik pembahasan dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) X LDII yang direncanakan berlangsung pada pertengahan 2026. “Kami akan menggodok berbagai masukan konstruktif untuk pemerintah terkait persoalan-persoalan kekinian, yang kemudian dituangkan dalam program kerja serta rekomendasi LDII,” tuturnya.

Lebih lanjut, KH Chriswanto menyebut LDII belajar dari sejarah dan berkomitmen mendorong pembinaan generasi muda secara serius dan masif. Pembinaan tersebut diarahkan agar generasi muda mampu menjadi bagian dari upaya membangun peradaban yang bermoral dan berkarakter. Langkah-langkah kecil ini diharapkan memberi dampak besar saat Indonesia menyongsong Indonesia Emas 2045.

Sejumlah upaya konkret telah dilakukan, salah satunya melalui kegiatan Pengajian Akhir Tahun yang dilaksanakan secara konsisten sejak pertengahan 1990-an atas inisiasi Dewan Penasihat DPP LDII dan para ulama. “Setiap akhir tahun, LDII menggelar pengajian di majelis taklim, mushalla, masjid, dan pesantren. Generasi muda diajak beraktivitas positif melalui mengaji, diskusi, nasihat keagamaan, hingga penampilan seni seperti drama dan pencak silat. Tahun ini kami juga mengimbau generasi penerus untuk menanam pohon di sekitar lokasi pengajian,” ujar Chriswanto.

Melalui Pengajian Akhir Tahun tersebut, LDII berharap generasi muda tetap terjaga dan tidak terpengaruh oleh aktivitas maksiat, hura-hura, perilaku konsumtif, maupun gaya hidup hedonis. Kegiatan ini bertujuan menjaga pergaulan remaja sekaligus memperkuat karakter mereka agar menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur, memiliki pemahaman agama yang baik, serta mandiri dalam kehidupan.

Sejalan dengan itu, Ketua DPW LDII Sumatera Barat H. Muchfiandi menegaskan bahwa masyarakat muslim Minangkabau memiliki kultur agamis yang kuat dan cenderung tidak merayakan pergantian tahun dengan hura-hura. “Di Minangkabau, tradisi menyambut tahun baru itu tidak ada, akan tetapi lebih banyak diisi dengan mengajak anak-anak dan remaja ke surau atau masjid, tadarus Al-Qur’an, serta mendengarkan ceramah buya. Ini selaras dengan semangat Pengajian Akhir Tahun LDII,” ujarnya.

Ia turut menambahkan pesan kepada para ulama dan orang tua agar bersama menyukseskan kegiatan positif dimalam pergantian tahun 2025-2026, “Kami mengajak para ulama, pamong, guru, mubaligh-mubalighot, dan orang tua untuk terus mendorong generasi muda mengikuti kegiatan positif ini sebagai upaya memperkuat nilai moral dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT,” tegasnya.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram